BANJARBARU – Hanya dalam tiga pekan pertama tahun 2026, Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat ada 3.107 kasus penyakit Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) di kota ini.
Data tersebut dihimpun melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dari puskesmas dan rumah sakit di Banjarbaru.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinkes Banjarbaru dr. Siti Ningsih mengatakan, cuaca tidak menentu diduga menjadi pemicu utama tingginya kasus gangguan pernapasan.
"Ini juga karena dipengaruhi oleh semakin aktifnya sistem pelaporan," katanya, Minggu (1/2).
Selain tingginya kasus ISPA, Siti menyebut, Dinkes Banjarbaru juga menemukan satu kasus positif pertusis atau batuk rejan. "Ini kelompok paling rentan masih didominasi balita usia 0 sampai 5 tahun, khususnya bayi yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap," sebutnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Banjarbaru memperketat surveilans harian melalui SKDR guna mengantisipasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB), serta melakukan pengejaran cakupan imunisasi DPT pada anak-anak yang imunisasinya sempat tertinggal.
Siti juga mengimbau masyarakat untuk melengkapi imunisasi dasar dan booster anak di Posyandu maupun Puskesmas, menerapkan etika batuk dan penggunaan masker, serta meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Jika anak mengalami batuk beruntun disertai bunyi ‘whoop’ atau sesak napas, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat,” tambahnya.
Selain itu, Siti meminta warga yang sedang mengalami batuk pilek agar menggunakan masker dan membatasi interaksi dengan banyak orang guna mencegah penularan penyakit.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief