Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kusta di Balangan Masih Ada, Dinkes Ingatkan Bahaya Jika Terlambat Ditangani

M Dirga • Minggu, 25 Januari 2026 | 15:14 WIB
Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan deteksi dini penyakit kusta. (Dok. Dinkes Balangan)
Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan deteksi dini penyakit kusta. (Dok. Dinkes Balangan)

PARINGIN - 25 Januari diperingati sebagai Hari Kusta Sedunia 2026. Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular kronis yang masih menjadi perhatian kesehatan masyarakat, terutama karena berpotensi menimbulkan kecacatan apabila tidak ditangani sejak dini.

Di Kabupaten Balangan, kusta masih menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian serius. Meski dalam dua tahun terakhir tercatat adanya penurunan jumlah kasus baru, Dinas Kesehatan menilai kewaspadaan dan edukasi kepada masyarakat tetap perlu diperkuat guna mencegah penularan dan dampak yang lebih luas.

Supervisor Program Kusta (Wasor) Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, Graha Eka Satria, mengatakan pada 2024 tercatat sebanyak 12 kasus kusta baru. Jumlah tersebut menurun menjadi 10 kasus pada 2025.

“Secara angka memang terjadi penurunan, tetapi kusta masih ditemukan di hampir seluruh kecamatan di Balangan. Hanya Kecamatan Tebing Tinggi yang tercatat nihil kasus,” ujarnya, Minggu (25/1/2026).

Graha menjelaskan, rendahnya pemahaman masyarakat masih menjadi tantangan utama dalam penanganan kusta. Banyak warga yang belum memahami apa itu kusta, bagaimana cara penularannya, serta bahwa penyakit ini dapat disembuhkan jika ditangani sejak dini.

“Karena itu kami terus menggalakkan edukasi dan sosialisasi ke masyarakat,” katanya.

Ia menerangkan, penularan kusta paling umum terjadi melalui droplet atau percikan batuk dan bersin, terutama pada kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita kusta yang belum menjalani pengobatan.

“Risiko penularan lebih besar pada orang yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dalam waktu lama. Penyakit ini juga tidak langsung muncul, biasanya baru terlihat enam sampai tujuh tahun setelah terpapar,” jelasnya.

Gejala awal kusta umumnya berupa bercak pada kulit yang mati rasa karena kusta menyerang sistem saraf. Bercak tersebut kerap disangka panu, padahal berbeda karakteristik.

“Kalau tidak ditangani, kusta bisa berkembang menjadi kronis dan menyebabkan kecacatan, bahkan kebutaan,” ujarnya.

Untuk pengobatan, Dinas Kesehatan Balangan menyediakan obat Multi Drug Therapy (MDT) yang tersedia di seluruh puskesmas. Pengobatan dilakukan selama 12 bulan dan diberikan secara gratis.

Selain pengobatan, Dinkes Balangan juga melakukan skrining aktif di masyarakat dan sekolah untuk menemukan kasus baru, pemberian obat pencegahan atau kemoprofilaksis bagi kontak serumah penderita, serta sosialisasi untuk menghilangkan stigma negatif terhadap pasien kusta.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa kusta bisa disembuhkan dan penderita tidak perlu dikucilkan,” tegas Graha.

Ia mengimbau warga yang menemukan gejala seperti bercak mati rasa di kulit agar segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit.

“Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kecacatan dan memutus penularan,” katanya.

Upaya pengendalian penyakit kusta tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan dan program pemerintah. Peran aktif masyarakat dalam mengenali gejala awal serta menjaga kesehatan diri dan lingkungan juga dinilai menjadi kunci keberhasilan pencegahan penyakit kusta di Bumi Sanggam.

Sejalan dengan itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, Juhriadi, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatannya.

“Kesadaran menjaga kesehatan diri sangat penting, bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga agar tidak berdampak pada orang lain di sekitar,” ujarnya.

Menurut Juhriadi, edukasi berkelanjutan menjadi kunci dalam upaya pengendalian kusta. Hal ini sejalan dengan peringatan Hari Kusta Sedunia yang menjadi momentum refleksi bersama.

“Dengan pemahaman yang benar, kita bisa mencegah penularan, menghapus stigma, dan mewujudkan Balangan yang lebih sehat,” pungkasnya. 

 

Editor : Arif Subekti
#kusta #Kasus #Balangan #penurunan