Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjir Belum Surut, Warga Mulai Diserang Penyakit, Bantuan Obat Belum Merata

Eddy Hardiyanto • Selasa, 6 Januari 2026 | 09:14 WIB
DAMPAK BANJIR: Kondisi kaki warga yang terserang kutu air alias lancat akibat terlalu sering terendam air banjir.
DAMPAK BANJIR: Kondisi kaki warga yang terserang kutu air alias lancat akibat terlalu sering terendam air banjir.

MARTAPURA - Banjir yang melanda Kabupaten Banjar belum menunjukkan tanda-tanda surut. Selain melumpuhkan aktivitas warga, genangan air yang bertahan berhari-hari kini mulai memicu keluhan kesehatan. Penyakit kulit berupa kutu air atau yang oleh warga setempat disebut “lancat” menjadi gangguan paling banyak dialami korban banjir.

Di Desa Lok Buntar, Kecamatan Sungai Tabuk, air terus meningkat sejak Senin akhir tahun lalu, dan merendam sedikitnya delapan RT. Hingga kini, genangan belum surut, diperparah hujan yang masih kerap turun. “Air terus naik dari hari Senin, ditambah hujan terus, jadi lambat sekali surutnya,” ujar Ahmad Suja’i, warga setempat.

Menurutnya, selain aktivitas warga lumpuh, dampak kesehatan mulai terasa. “Banyak warga mengeluh sakit kulit, kaki lancat. Bantuan obat belum merata,” tukasnya.

Sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat atau tetangga yang lebih aman. Namun, tidak sedikit yang memilih bertahan karena khawatir meninggalkan rumah dan harta benda. “Kalau ditinggal takutnya ada maling. Motor di depan rumah saja dijaga bergantian,” ujarnya memberi alasan.

Keluhan serupa juga dialami warga di Kecamatan Martapura Barat. Selama hampir dua pekan genangan bertahan, penyakit kulit menjadi gangguan kesehatan paling banyak dikeluhkan, selain demam dan diare. “Paling banyak kena penyakit kulit belancat. Obat-obatan masih cukup dan pelayanan berjalan lancar,” ujar Nur Latifah, petugas surveilans Puskesmas Martapura Barat.

Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Kesehatan juga menggelar bakti kesehatan massal di sejumlah desa rawan banjir. Tim kesehatan melakukan pemeriksaan, pengobatan, serta pembagian salep kulit bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan.

Plt Kepala Dinkes Banjar, dr Widya Wiri Utami, mengatakan skrining kesehatan dilakukan untuk mengantisipasi penyakit yang kerap meningkat pascabencana. “Gangguan kulit menjadi salah satu keluhan yang banyak kami temui di lapangan,” terangnya.

Upaya serupa dilakukan RSUD Ratu Zalecha Martapura yang bekerja sama dengan Dinkes Banjar. Mereka menggelar pengobatan gratis di desa-desa terdampak, melayani ratusan warga yang mengalami gangguan kesehatan selama banjir.

Meski layanan kesehatan mulai menjangkau wilayah terdampak, warga berharap bantuan medis dapat lebih cepat dan merata. “Harapan kami ada perhatian dan bantuan kesehatan yang berkelanjutan, karena banjir di sini biasanya lama surut,” kata Ahmad.

Tak hanya di Kabupaten Banjar, keluhan yang sama datang dari korban banjir di Banjarmasin. Mariana, warga Jalan Rahayu, Kompleks Pembina 4 Ujung RT 8 RW 1 mengatakan, ia bersama enam anggota keluarganya terserang kutu air, karena hampir setiap hari kaki terendam banjir. “Selain kutu air, anak-anak juga sering kena gatal-gatal di kulit. Air banjirnya kotor,” ujar Mariana, Senin (5/1).

Tak hanya itu, keluhan sakit di kaki hingga demam dialami hampir merata oleh warga terdampak, baik orang dewasa maupun anak-anak. “Rata-rata warga di sini pasti pernah kena penyakit itu. Pemicunya ya karena banjir ini,” jelasnya.

Meski demikian, Mariana mengaku bersyukur karena Pemerintah Kota Banjarmasin telah menurunkan petugas kesehatan ke lokasi terdampak. “Alhamdulillah, kami diperiksa kesehatannya dan diberi obat,” ucapnya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan membenarkan adanya peningkatan keluhan penyakit kulit di kawasan terdampak banjir, khususnya Sungai Lulut. “Laporan dari puskesmas, juga dari rekan-rekan relawan BPBD, keluhan terbanyak memang penyakit kulit, gatal-gatal dan kutu air,” ujarnya.

Dinkes, kata Ramadhan, telah menurunkan tim reaksi cepat untuk memberikan layanan kesehatan dan mendistribusikan obat-obatan melalui puskesmas. “Kami sudah mengirimkan obat-obatan melalui puskesmas dan tim reaksi cepat. Kegiatan pelayanan kesehatan di Sungai Lulut sudah dilakukan sejak beberapa hari terakhir,” katanya.

Ia mengimbau warga menjaga kebersihan diri setelah beraktivitas di genangan air guna mencegah penyakit kulit. “Kalau memang tergenang, begitu keluar dari genangan, segera bersihkan anggota tubuh dengan air bersih. Harapannya penyakit kulit bisa dicegah,” pesan Ramadhan. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Banjir #penyakit #Banjar #bencana