Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjarmasin Catat Kasus HIV Tertinggi, Ini Imbauan Dinas Kesehatan Kalsel

M Oscar Fraby • Kamis, 11 Desember 2025 | 15:51 WIB
Ilustrasi HIV. (Koko/Radar Banjarmasin)
Ilustrasi HIV. (Koko/Radar Banjarmasin)

BANJARMASIN – Kota Banjarmasin menjadi daerah dengan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) tertinggi di Kalsel. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel mencatat dari total 632 kasus yang tersebar di lima kabupaten/kota, ada sebanyak 219 kasus HIV di Banjarmasin sepanjang 2025.

Secara keseluruhan, perkembangan kasus HIV di Kalsel dalam tiga tahun terakhir menunjukkan dinamika yang perlu mendapat perhatian serius. Pada 2023 tercatat 549 kasus, kemudian melonjak 25,7 persen menjadi 690 kasus pada 2024. Memasuki 2025, jumlahnya menurun 8,4 persen menjadi 632 kasus.

Kepala Dinkes Kalsel, Diauddin, menjelaskan bahwa lonjakan pada 2024 lebih disebabkan oleh perluasan skrining aktif, sehingga lebih banyak kasus terdeteksi lebih awal. Sedangkan penurunan kasus pada 2025 menjadi indikasi positif dari upaya pencegahan dan pengobatan yang semakin efektif.

“Peningkatan pada 2024 lebih banyak mencerminkan hasil skrining aktif yang semakin luas,” ujarnya, Selasa (9/12).

Setelah Banjarmasin, kasus tinggi terdapat di Banjarbaru sebanyak 75 kasus, disusul Banjar 66 kasus, Hulu Sungai Tengah 49 kasus dan Tanah Bumbu sebanyak 48 kasus. Dikatakan Dia, tingginya kasus di Banjarmasin karena faktor kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, serta cakupan skrining yang lebih luas dibandingkan daerah lain.

Dia menegaskan, Dinkes Kalsel terus memperkuat berbagai langkah pencegahan untuk menekan penularan HIV. Edukasi dilakukan masif seperti di sekolah, kampus, lembaga pemasyarakatan, hingga tempat hiburan malam. Pembagian kondom bagi kelompok berisiko juga menjadi bagian dari strategi pencegahan.

Selain itu, skrining HIV sebutnya menyasar bagi ibu hamil, calon pengantin, penghuni lapas, serta komunitas berisiko tinggi. Upaya pengobatan diperkuat melalui 122 puskesmas dan rumah sakit daerah yang menyediakan layanan ramah dan non-diskriminatif, termasuk akses terapi antiretroviral (ARV). “Pendekatan kembali kepada penyintas yang sempat putus pengobatan juga kami lakukan, melalui konseling agar mereka melanjutkan terapi,” tambah Diauddin.

Dari data nasional, Kemenkes mencatat, bahwa jumlah orang dengan HIV (ODHIV) terus mengalami kenaikan. Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Ina Agustina Isturini, mengungkap jumlah estimasi ODHIV diperkirakan menembus 564 ribu orang pada 2025. “Jadi estimasi ODHIV hidup di Indonesia tahun 2025 adalah 564 ribu orang. Itu yang harus kami temukan supaya mereka tahu statusnya,”ujarnya

Sementara itu, per Maret 2025, Kemenkes menemukan sekitar 356.638 atau 63 persen kasus ODHIV dari estimasi 564 ribu. Dari jumlah itu, 67 persen telah menjalani pengobatan antiretroviral (ARV), dan 55 persen menunjukkan virus yang tersupresi.

“Penemuan kasus orang dengan HIV setiap tahun menunjukkan peningkatan. Tahun lalu kita menemukan 63.707 kasus baru,” ungkapnya.

Dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui jika tren kasus positif untuk penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) secara umum menurun. Jumlah kasus positif IMS 2024 sebanyak 52.830, menurun dari tahun sebelumnya sebanyak 61.065 orang pada 2023.

Baca Juga: Banjarbaru Urutan Kedua Kasus HIV Kalsel, 99 Pasien Meninggal Dunia

Editor : Arief
#dinkes #hiv #banjarmasin