BANJARMASIN – Upaya penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalsel semakin dimasifkan. Mulai Januari 2026, sebanyak 7.500 siswa kelas 3 dan 4 SD di Kota Banjarmasin akan menerima vaksinasi DBD secara gratis melalui program hibah nasional.
Banjarmasin dipilih sebagai salah satu lokasi uji percontohan vaksin dengue bersama Jakarta dan Palembang. Total vaksin yang disalurkan mencapai 30 ribu dosis. Penunjukan ini dilakukan karena meski kasus DBD di Kalsel turun drastis pada 2025. Namun, Banjarmasin tetap menjadi daerah dengan risiko tinggi.
Data Dinas Kesehatan Kalsel mencatat, pada 2024 terdapat 3.236 kasus DBD dengan 16 kematian. Tahun ini, hingga 10 November, jumlahnya menurun menjadi 460 kasus dengan satu kematian. Namun beban Banjarmasin sebagai wilayah rawan belum sepenuhnya mereda.
Ketua Tim Dokter Anak Kalsel untuk vaksin dengue, dr Edi Hartoyo, menegaskan pentingnya program ini untuk menguji efektivitas vaksin di daerah berisiko tinggi. “Beberapa negara ASEAN sudah memulai fase satu. Provinsi tetangga, Kaltim, juga sudah menggunakan, tetapi mereka beli mandiri,” ujarnya, Kamis (20/11).
Ia menjelaskan, vaksin akan diberikan dalam dua tahap. Untuk dosis pertama pada Januari 2026 dan dosis kedua tiga bulan setelahnya. “Efektivitasnya diperkirakan mencapai 80 persen dalam mencegah infeksi dan 85 persen mencegah gejala berat, dengan pemantauan dilakukan hingga tiga tahun,” ujarnya.
Di luar program hibah, vaksin dengue masih tergolong mahal. “Biayanya sekitar Rp1,2 juta per orang di praktik saya,” sebutnya.
Sementaraa, Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya teknis pelaksanaan, tetapi juga penerimaan masyarakat. “Setiap program baru selalu butuh waktu untuk membangun kepercayaan. Tidak ada paksaan dalam vaksinasi ini,” katanya.
Meski demikian, Diauddin optimistis masyarakat akan antusias mengikuti program ini. Terlebih, vaksin dengue telah bersertifikasi halal dan diyakini mampu menekan risiko penyakit. “Kami imbau agar selalu memantau informasi resmi. Jangan mudah termakan informasi bohong atau hoaks,” tegasnya.
Editor : Arief