Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ancaman Kesehatan di Meja Makan, Masyarakat Kalsel Wajib Perhatikan Pola Makan

M Akbar Radar Banjarmasin • Sabtu, 8 November 2025 | 14:15 WIB

 

Photo
Photo

Tradisi makan adalah warisan budaya, namun perlu disikapi bijak. Keseimbangan antara rasa dan gizi adalah kunci untuk hidup sehat dan panjang umur.

    ****

BATULICIN — Bagi sebagian warga Kabupaten Tanah Bumbu, kuah santan dan kuah sayur bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian tak terpisahkan dari kenikmatan makan. Warga mengaku lebih suka menyiram nasi dan lauk dengan kuah agar terasa lebih lezat dan mudah ditelan.

“Bisa pakai kuah sayur biasa atau kuah santan,” ujar Man Hidayat.

Alwi, warga lain mengaku tak bisa melewatkan sepiring ikan kuah santan tanpa tambahan kecap manis. “Rasanya kurang lengkap kalau tidak ada manisnya sedikit,” kata warga Pagatan itu.

Namun, di balik kelezatan itu, kebiasaan ini menyimpan risiko kesehatan yang serius. Konsumsi kuah bersantan, kecap manis, dan sambal instan secara rutin dapat meningkatkan kadar lemak, gula, dan natrium dalam tubuh, adalah faktor utama pemicu penyakit metabolik seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan stroke.

Bahkan, jika dilakukan terus-menerus, dapat memperberat kerja metabolik tubuh. Santan kental yang dikonsumsi bersama makanan tinggi karbohidrat seperti gulai, rendang, atau lontong sayur memperbesar risiko dislipidemia (gangguan kadar lemak dalam darah) yang dapat memicu kolesterol tinggi dan penyakit jantung koroner.

Kebiasaan ini mulai kelihatan dampaknya. Badan Pusat Statistik (BPS) Tanah Bumbu mencatat, sepanjang 2023 terdapat 6.972 kasus diabetes mellitus dan 3.815 kasus hipertensi. Total kasus penyakit metabolik mencapai 10.787.

Sementara itu, RSUD Pambalah Batung Amuntai mencatat stroke dan hipertensi sebagai penyakit terbanyak yang ditangani sepanjang tahun ini. Sampai November, untuk penyakit Stroke ringan terdapat 2.979 pasien, sedangkan hipertensi mencapai 1.730 pasien.

Kasi Pelayanan RSUD, Akhmad Nizomy, menyebut banyak pasien mengalami sequelae of stroke, atau gejala sisa seperti kelumpuhan, gangguan bicara, penglihatan, dan memori. “Penanganan pascastroke difokuskan pada rehabilitasi agar pasien bisa kembali beraktivitas,” ujarnya.

Dokter spesialis penyakit dalam RSUD Pambalah Batung Amuntai, dr. Deiby Rosari Marieta, mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan pola makan dan gaya hidup sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi makanan tidak sehat menjadi penyebab utama berbagai penyakit kronis yang kini semakin banyak ditangani rumah sakit.

“Penyakit-penyakit tersebut berawal dari kebiasaan makan yang tidak sehat. Makanan yang terlalu asin atau terlalu manis menjadi pemicu utama,” ujarnya, Jumat (7/11).

Dia menyoroti pengaruh tradisi kuliner lokal terhadap kesehatan masyarakat. “Terutama di masyarakat Banjar yang gemar makan sayur santan berlebihan, iwak karing, pakasam, hingga makanan manis,” jelasnya.

Selain pola makan, gaya hidup tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, dan stres turut mempercepat timbulnya penyakit degeneratif. Faktor keturunan juga memperbesar risiko jika tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat.

Deiby menyarankan agar masyarakat mulai mengurangi konsumsi garam, gula, dan lemak. Ia mendorong pola makan seimbang dengan memperbanyak sayur dan buah serta rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari. “Pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara berkala juga penting untuk deteksi dini,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang. “Jangan menunggu sakit baru menjaga pola makan. Mari biasakan hidup sehat sejak dini agar terhindar dari penyakit berbahaya,” imbaunya.

Terpisah, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Hulu Sungai Selatan, Latifah, menyebutkan bahwa konsumsi santan berlebihan menjadi salah satu pemicu tingginya angka penyakit metabolik seperti darah tinggi, kolesterol, dan stroke.

“Pola makan tinggi natrium seperti santan olahan bisa meningkatkan lemak dalam tubuh. Ditambah kebiasaan makan ikan fermentasi dan kurang olahraga,” ujarnya.

Santan kental yang dikonsumsi bersama makanan tinggi karbohidrat seperti gulai, rendang, atau lontong sayur memperberat beban metabolik. Jika dikonsumsi berlebihan dan terus-menerus, santan dapat memicu dislipidemia, obesitas, dan diabetes.

Latifah menekankan pentingnya aktivitas fisik rutin minimal 30 menit setiap hari. Ia juga mendorong masyarakat untuk membiasakan pola makan bergizi seimbang sejak di rumah. “Untuk protein bisa tahu dan tempe, sayuran seperti bayam dan kangkung, buahnya bisa kestela dan pisang. Tidak perlu mahal, cukup yang mudah didapat di sekitar kita,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa pola makan yang salah dan tidak sehat, jika tidak dihentikan, dapat menimbulkan penyakit sisa seperti stroke. “Hipertensi yang berkelanjutan tanpa diobati dan pola makan yang salah bisa menyebabkan gejala sisa seperti kelumpuhan dan gangguan bicara,” pungkasnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Diabetes #kesehatan #makanan