Temuan berdasarkan Riskesdas 2013 itu kembali disoroti Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel dr Sigit Prasetya Kurniawan sebagai peringatan serius terkait pola makan masyarakat.
Selain makanan manis, masyarakat Kalsel juga tercatat gemar mengonsumsi makanan asin sebesar 16,6 persen dan makanan berlemak termasuk berbahan santan hingga 35,8 persen.
Baca Juga: Amparan Tatak Hingga Ketupat Kandangan Berisiko Tinggi Picu Diabetes, Ini Kata Dokter
"Angka-angka ini menunjukkan jelas bahwa masyarakat Kalsel memang sangat akrab dengan makanan manis dan bersantan. Kebiasaan ini perlu menjadi perhatian bersama," ujar dr Sigit, Jumat (7/11).
Ia menegaskan bahwa tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak tersebut berkontribusi langsung pada meningkatnya risiko penyakit metabolik di Kalsel.
Kondisi ini memicu hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, hingga obesitas.
Baca Juga: Listrik Cuma 13 Jam Sehari, Warga Pulau Kerayaan Kotabaru Terpaksa Pakai Genset Habiskan Rp 4,5 Juta
"Kesadaran hidup sehat masih harus ditingkatkan. Perubahan pola makan menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan," tegasnya.
Menurut dr Sigit, faktor dominan tingginya penyakit metabolik di Kalsel berawal dari pola hidup tidak sehat.
Di antaranya minim aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, kurang istirahat, hingga riwayat keluarga dengan penyakit degeneratif.
Baca Juga: Makanan Asin dan Manis Pemicu Hipertensi Hingga Gagal Ginjal, Ini Kata Dokter RSUD Amuntai
"Jika tidak dikendalikan, faktor-faktor ini memperbesar risiko sindrom metabolik yang berujung pada penyakit jantung, diabetes, dan stroke," jelasnya.
IDI Kalsel mengimbau masyarakat untuk mulai memperbanyak konsumsi buah, sayur, serta protein rendah lemak. Sekaligus membatasi gula, garam, dan penggunaan santan berlebih. (*)
Editor : M. Ramli Arisno