Hal itu diungkapkan Dokter umum RS Syifa Medika dr Puga Wangi, Jumat (7/11). Menurutnya, kebiasaan konsumsi makanan manis dan bersantan sudah mengakar kuat dalam budaya kuliner masyarakat Kalsel.
"Varian wadai seperti bingka, amparan tatak, sari muka hingga lauk seperti masak habang umumnya bercitarasa manis. Belum lagi makanan bersantan seperti ketupat kandangan, nasi kuning, dan gangan paliat yang menggunakan santan kental," ujarnya.
Baca Juga: Listrik Cuma 13 Jam Sehari, Warga Pulau Kerayaan Kotabaru Terpaksa Pakai Genset Habiskan Rp 4,5 Juta
Selain pola makan, kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat juga masih tergolong rendah. dr Puga menyebut konsumsi makanan tinggi gula, makanan kemasan, dan makanan cepat saji masih mendominasi.
"Kondisi itu turut berkontribusi terhadap angka stunting dan malnutrisi kronis yang masih ditemukan di beberapa daerah," katanya.
Aktivitas fisik memang mulai meningkat seiring tumbuhnya komunitas serta event olahraga. "Namun belum merata. Masih banyak masyarakat yang kurang berolahraga secara teratur," tambahnya.
Baca Juga: Makanan Asin dan Manis Pemicu Hipertensi Hingga Gagal Ginjal, Ini Kata Dokter RSUD Amuntai
Ia menjelaskan, sejumlah faktor menjadi penyebab tingginya penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi di Kalsel. Di antaranya pola makan tinggi kalori dan lemak, kebiasaan merokok, serta keterbatasan akses layanan kesehatan.
"Terutama di wilayah pedalaman, pegunungan, dan pesisir yang membuat deteksi dini penyakit sering terlambat," pungkasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno