BANJARMASIN – Memasuki Oktober, beberapa wilayah di Indonesia sudah memasuki musim hujan. Pada waktu yang bersamaan, terjadi kenaikan kasus demam berdarah dengue (DBD).
"Kalau dilihat dari data, sampai September 2025 tercatat ada 15 kasus DBD. Jumlah ini memang lebih rendah dibanding tahun 2024 yang mencapai 68 kasus. Namun, setiap awal musim hujan, tren kasusnya selalu naik," ucap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin, drg Emma Ariesnawati, Rabu (8/10).
Banjarmasin sendiri merupakan daerah endemik DBD. Genangan yang muncul setelah hujan kerap menjadi tempat favorit nyamuk Aedes aegypti.
Mengantisipasi lonjakan kasus, pemko telah mengeluarkan Surat Edaran Wali Kota Banjarmasin Nomor 400.7.9.2/439/P2P/Dinkes tertanggal 28 Agustus 2025 tentang Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.
"PSN masih menjadi cara paling efektif mencegah DBD, tapi ini tidak bisa hanya pemerintah. Kunci keberhasilannya di partisipasi masyarakat," tegas Emma.
Ia menjelaskan, peran kader jumantik (juru pemantau jentik) sangat penting dalam pencegahan. Para kader ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan yang bersentuhan langsung dengan warga.
"Mereka membantu memberdayakan masyarakat dan memastikan kegiatan pemantauan jentik dilakukan rutin," tambahnya.
Emma menyebutkan, hingga saat ini belum ada pasien DBD yang meninggal dunia. Dinkes juga telah mengajukan permintaan logistik untuk mitigasi jika terjadi peningkatan kasus.
Gejala dan pola klinis penyakit DBD, waspada jika mengalami demam tinggi mendadak. "Jangan tunggu sampai parah. Penanganan cepat sangat penting," ujarnya.
Berdasar kalender risiko, peningkatan kasus DBD di Banjarmasin biasanya terjadi pada periode Oktober hingga Februari.
Periode ini menjadi puncak perkembangbiakan nyamuk akibat banyaknya genangan air setelah hujan.
Karena itu, Dinkes kembali mengingatkan tentang 3M Plus. Yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat air, dan mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air.
"Kalau lingkungan bersih, nyamuk tak punya tempat berkembang. Itu kunci utamanya," pungkas Emma.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief