MARTAPURA - Ancaman penyakit hewan menular kembali menjadi perhatian serius Dinas Pertanian dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Mereka meningkatkan kewaspadaan menyusul meningkatnya risiko penyebaran flu burung (avian influenza) dan rabies.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan & Kesmavet), drh Lulu Vilavardi menegaskan perubahan cuaca yang tidak menentu di musim pancaroba seperti sekarang membuat unggas sangat rentan terpapar virus flu burung. Ia menekankan pentingnya vaksinasi sebagai upaya pertahanan utama.
“Ini (vaksinasi, red) adalah kunci untuk melindungi populasi unggas kita, dan mencegah penyebaran virus,” ujar drh Lulu, Selasa (29/7) sore.
Ia juga mengingatkan seluruh peternak agar lebih proaktif dan tidak menyepelekan gejala penyakit pada unggas. Flu burung, tegas Lulu, menjadi ancaman nyata bagi sektor peternakan. Terlebih di tengah kondisi cuaca ekstrem yang memicu stres pada hewan.
Tak hanya flu burung, drh Lulu juga menyinggung potensi penyebaran rabies. Ini menyusul adanya dua kasus positif rabies yang dilaporkan di Kabupaten Tabalong. Kedua kasus tersebut menyebabkan kematian warga setelah digigit anjing liar, yang sempat dianggap sebagai luka biasa, dan tidak mendapat penanganan antirabies.
“Pencegahan adalah kunci utama untuk mempertahankan status bebas rabies di wilayah kita,” tegasnya.
Meski Kabupaten Banjar masih dinyatakan aman dari kasus rabies, Distan tetap siaga dan terus meningkatkan kewaspadaan serta pengawasan terhadap hewan pembawa rabies seperti anjing dan kucing, baik peliharaan maupun liar.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar mencatat sebanyak 34 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) terjadi sejak awal Januari hingga pertengahan Juli 2025. Kabar baiknya, seluruh korban mendapat penanganan medis dan dinyatakan sembuh total.
“Sebagian pasien bukan warga Banjar, namun tetap kami tangani karena berada di wilayah layanan kesehatan kami seperti RSUD Ratu Zalecha,” ungkap Pengelola Zoonosis Dinas Kesehatan Banjar, Andy.
Menurutnya, mayoritas gigitan berasal dari kucing dan anjing, disusul monyet. Karena itulah, ia menekankan pentingnya mencuci luka gigitan menggunakan air dan sabun selama 10–15 menit sebagai pertolongan pertama sebelum pemberian vaksin rabies.
“Itu bisa mencegah penularan hingga 80 persen. Setelah itu segera ke puskesmas atau rumah sakit,” imbaunya.
Sebagai bentuk sinergi lintas sektor, Dinkes Banjar dan Distan juga menggelar layanan vaksinasi rabies gratis secara mobile di beberapa lokasi strategis seperti Pasar Gambut dan Kertak Hanyar. Upaya ini dilakukan untuk menjaga status Banjar bebas rabies dan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap penyakit zoonosis.
“Data 34 gigitan itu bukan berarti semuanya positif rabies. Ini bentuk kewaspadaan dini,” tambah Andy.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief