BANJARMASIN – Fenomena kekerasan terhadap anak Indonesia semakin mengkhawatirkan. Kian ironis karena pelaku adalah orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung.
Momen Hari Anak Nasional tahun ini diharapkan menjadi momentum untuk merefleksikan dan mengadvokasi hak-hak anak serta menyoroti tantangan yang terus berkembang.
Psikolog dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Sukma Noor Akbar mengatakan di era digital ini ancaman terhadap tumbuh kembang anak semakin kompleks.
Internet menawarkan banyak manfaat dan kemudahan, namun juga menciptakan kerentanan baru.
Mudahnya mengakses media sosial berdampak besar bagi anak. Menawarkan konten yang tidak pantas seperti pornografi, kekerasan atau tema dewasa yang bisa diakses oleh anak.
Paparan pornografi usia dini yang sangat mudah diakses tersebut akan merusak perkembangan seksual anak. Salah satunya akan membentuk pemahaman yang salah tentang seksualitas. Bahkan meningkatkan resiko anak menjadi korban kekerasan seksual dan pelaku kejahatan seksual di masa depan.
"Dampak psikologis lain bisa jadi anak akan menjadi cemas, depresi, rasa malu dan tekanan psikologis lain akibat konten yang dilihat. Sehingga sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental anak," ujar Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalimantan Selatan itu, Selasa (22/7).
Sisi lain, sebutnya, lemahnya peran orang tua dalam melindungi anak merupakan salah satu faktor yang meningkatkan risiko kekerasan seksual.
"Lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang dapat membangun ketahanan pada anak sehingga akan melawan kekerasan seksual baik di dunia maya maupun nyata," imbuhnya.
Dia menekankan, orang tua adalah lingkungan primer pertama bagi anak dan memiliki peran sentral dalam mengawasi konsumsi konten digital.
"Orang tua memiliki tanggungjawab mengajarkan anak berinternet aman dan menghindari konten daring yang tidak pantas. Ini yang harus dilakukan," cetusnya.
Orang tua harusnya mendorong anak untuk aktif bercerita kegiatan sehari-hari untuk menumbuhkan kebiasaan keterbukaan.
"Orang tua juga berperan sebagai teladan digital yang positif, dengan menyediakan waktu berkualitas tanpa gawai seperti makan, berbicara tatap muka, diskusi untuk memperkuat ikatan keluarga. Hingga ketergantungan terhadap gawai dapat diminimalisir," tutupnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief