MARTAPURA – Rencana relokasi layanan rawat inap Puskesmas Aluh-Aluh ke Aula Kecamatan setempat menuai penolakan dari DPRD Kabupaten Banjar.
Ketua Komisi IV DPRD Banjar, Hj Anna Rusiana menegaskan bahwa aula lama yang akan digunakan sebagai ruang rawat inap sementara itu jauh dari kata layak.
“Menurut kami, aula itu tidak layak. Pasien sedang sakit, seharusnya mendapatkan tempat yang nyaman dan fasilitas medis yang memadai. Bukan bangunan tua yang lapuk dan rawan banjir rob,” tegas Anna, usai melakukan peninjauan langsung ke lokasi, Rabu (25/6) petang.
Bangunan aula yang dimaksud merupakan gedung kayu yang kondisinya sudah memprihatinkan. Selain konstruksinya sudah tua, lokasi tersebut juga kerap tergenang air saat pasang rob datang. “Dari tampilannya saja sudah kelihatan, kalau ini tidak layak untuk fasilitas kesehatan. Apalagi untuk pasien rawat inap,” bandingnya.
Rencana pemindahan layanan rawat inap ke aula lama itu sebelumnya disampaikan oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Dr Noripansyah. Ia menyebut, pihaknya tengah menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang seperti wastafel, aliran listrik, hingga kebutuhan medis dasar agar pelayanan tidak terputus.
Namun, Anna tetap bersikeras meski dalam kondisi darurat, lokasi relokasi layanan kesehatan tetap harus memenuhi standar minimum. Sebagai solusi, ia mendorong agar Pemkab Banjar menggunakan Aula Kecamatan yang baru, yang sudah dibangun dengan struktur beton, dan dinilai lebih representatif.
“Kalau memang darurat, gunakan yang paling layak. Aula baru itu bangunan beton, jauh lebih aman, lebih bersih, dan setidaknya memenuhi standar ruang rawat inap sementara,” katanya.
Politisi Partai Gerindra ini juga menyoroti lambannya antisipasi dari Dinas Kesehatan terhadap bangunan-bangunan puskesmas yang sudah tua. Ia menilai, kerusakan di Puskesmas Aluh-Aluh seharusnya bisa dideteksi lebih dini.
“Ini kan bukan bangunan baru. Seharusnya sudah ada pemetaan kondisi fasilitas kesehatan yang rentan. Jangan tunggu ambruk, baru mencari solusi darurat seperti ini,” simpulnya.
Selain mendorong percepatan penyediaan ruang rawat inap sementara yang layak, Anna juga menegaskan bahwa pihaknya akan segera menggelar rapat dengan Dinas Kesehatan dan instansi teknis terkait.
“Kami ingin solusi jangka pendeknya cepat terealisasi. Tapi, untuk jangka panjang, pembangunan fasilitas kesehatan yang permanen dan representatif di Aluh-Aluh harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Anna juga meminta agar Dinas Kesehatan melakukan audit menyeluruh terhadap kondisi seluruh puskesmas di Kabupaten Banjar. “Jangan sampai kejadian serupa terulang di tempat lain. Ini soal keselamatan masyarakat dan tenaga medis,” ingatnya.
Instruksikan Cari Lokasi Pengganti
Bupati Banjar H Saidi Mansyur akhirnya angkat bicara soal insiden ambruknya ruang rawat inap Puskesmas Aluh-Aluh. Usai menghadiri rapat paripurna di DPRD Banjar pada Rabu (25/6), orang nomor satu di Kabupaten Banjar itu menegaskan komitmennya untuk memastikan pelayanan kesehatan masyarakat tetap berjalan tanpa hambatan.
“Bagaimanapun caranya, pelayanan kesehatan tidak boleh terhenti,” tegas Saidi di hadapan awak media.
Sebagai langkah cepat, ia telah menginstruksikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjar untuk segera mencari lokasi pengganti yang layak sebagai ruang rawat inap sementara. Koordinasi juga telah dilakukan dengan pihak kecamatan.
“Kami sudah minta Dinas Kesehatan dan Camat Aluh-Aluh untuk segera mencari ruang pengganti yang nyaman dan sesuai standar pelayanan. Pasien harus tetap mendapatkan pelayanan yang maksimal,” ujarnya.
Soal perbaikan bangunan yang ambruk, Saidi memastikan hal itu menjadi prioritas. Bahkan, jika memungkinkan, proses perbaikan akan dimulai dan diselesaikan dalam tahun anggaran berjalan.
“Kalau memungkinkan tahun ini juga, kita perbaiki. Nanti untuk perhitungan teknisnya akan ditangani oleh Dinas PUPRP. Yang pasti, kualitas bangunan akan menjadi perhatian utama,” janjinya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief