Mengusung tema “Personal and Precise Partner for Your Health”, Prodia berkomitmen mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia, serta pelaku industri kesehatan dengan selalu menjadi mitra yang dapat diandalkan mencapai tujuan kesehatan setiap individu. 2023 ini, Prodia juga berharap dapat terus mengiringi para mitra dan dokter melangkah lebih jauh dalam meningkatkan dan mengembangkan mutu layanan kesehatan dan pengobatan.
Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan IDI cabang Banjarmasin pada Sabtu (12/8) di Rattan Inn Banjarmasin dengan format offline. Dihadiri Ketua IDI Wilayah Kalsel, dr Sigit Prasetia Kurniawan SpPD – KHOM dan perwakilan IDI Kota Banjarmasin, dr Rahmawati SpPK. Kota Banjarmasin menjadi kota ke - 23 diadakannya seminar nasional Prodia tahun ini. Ada 150 peserta yang mengikuti seminar tersebut, terdiri dari dokter umum, internis, dan dokter patologi klinik.
Dengan tema “Diagnosis and Management of Hemostasis and Thrombosis”, webinar ini memberikan informasi terkini mengenai risiko trombosis dan penyakit terkait. Serta, memperdalam faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan D-Dimer yang perlu diperhatikan baik sebelum, saat, dan setelah pengerjaan D-Dimer.
Dr dr Muhammad Darwin Prenggono SpPD - KHOM selaku narasumber membahas mengenai Hematology and Other Biomarker Approach for Diagnosis of Hemostasis and Thrombosis. Kemudian, Bena Zaira SSi, Product Specialist dari Prodia memaparkan mengenai Laboratory Aspects of Hemostasis and Thrombosis in Prodia.
“Trombosis adalah sumbatan pembuluh darah yang bisa terjadi pada pembuluh darah arteri dan bisa juga pada pembuluh darah vena. Hal ini bisa jadi merupakan komplikasi dari suatu penyakit atau kondisi tertentu baik yang di dapat, maupun yang diturunkan,” ungkap Dr dr Muhammad Darwin Prenggono SpPD KHOM.
Disebutkan juga beberapa kondisi atau penyakit yang mempermudah terjadinya thrombosis. Seperti adanya riwayat deep vein thrombosis, hamil atau postpartum, lupus antikoagulan, operasi, terapi hormon estrogen, obesitas, varises vena, stroke, dan berbagai kondisi dengan risiko kerusakan endotel atau permukaan pembuluh darah. “Pada kondisi tersebut tentunya selain melakukan terapi pada penyakit dasar, diperlukan pemeriksaan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya thrombosis. Baik melakukan pemeriksaan fisis, laboratorium, maupun pemeriksaan penunjang yang lain. Pemeriksaan laboratorium yang penting untuk menunjang diagnosis thrombosis vena salah satunya adalah dengan D-Dimer,” Tambahnya.
Bena Zaira memaparkan Prodia memiliki pemeriksaan D-Dimer yang dapat membantu eklusi kondisi VTE (venous thromboembolism), DVT (deep vein thrombosis), dan PE (Emboli paru). “Terutama jika digunakan bersama dengan low dan moderate PTP, maka akan memiliki negative predictive value 99%. Pada D-Dimer sendiri terdapat faktor preanalitik, analitik, dan post analitik yang perlu diperhatikan dan dapat mempengaruhi hasil,” urainya.
Melalui seminar ini, diharapkan para dokter dapat memahami informasi peranan pemeriksaan D-Dimer pada berbagai kondisi penyakit. Terutama, untuk risiko deep vein thrombosis dan PE (Emboli Paru), serta penegakan diagnosis dan tata laksana yang lebih dini agar pencegahan dan penanganan hiperkoagulasi dapat dilakukan lebih baik.
Seminar ini berjalan dengan sukses dan interaktif, serta menjadi media diskusi dan berbagi pengalaman bagi para dokter. Selain itu, Prodia juga memfasilitasi seminar di kota-kota lain dengan topik tematik kesehatan lainnya untuk membuka ruang pengembangan bagi para dokter.(adv/oza) Editor : Fauzan Ridhani