RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Proses identifikasi jenazah korban KMP Virgo Transport 8 menghadapi tantangan lebih besar setelah operasi pencarian memasuki hari kelima. Kondisi jenazah akibat proses pembusukan membuat sejumlah metode identifikasi tidak lagi dapat dilakukan secepat pada hari-hari awal.
Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol Muhammad Sofwan mengatakan, pembusukan menyebabkan perubahan kondisi fisik jenazah. Wajah dapat mengalami perubahan, sedangkan sidik jari semakin sulit diperoleh.
Pada kondisi tertentu, bagian tubuh korban juga dapat mengalami kerusakan atau tidak lagi lengkap.
“Dengan ditemukannya jenazah Kapal Virgo ini di atas hari kelima, pasti banyak penyulitnya. Utama penyulitnya adalah proses pembusukan,” ujarnya, Senin (28/9/2026).
Kondisi tersebut membuat proses identifikasi membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan pada hari-hari pertama.
Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Kombes Pol dr Wahyu Hidajati Dwi Palupi menjelaskan, pada hari pertama sidik jari masih menjadi salah satu metode yang dapat mempercepat pencocokan identitas.
Namun, setelah tiga hingga lima hari, perubahan kondisi jenazah dapat menyebabkan sidik jari semakin sulit diperoleh.
“Memang prosesnya itu dianggap sedikit melambat. Tidak seperti yang hari pertama dengan sidik jari bisa cepat ketemu,” jelasnya.
Gigi hingga Barang Pribadi Jadi Petunjuk
Ketika sidik jari sulit diperoleh, tim Disaster Victim Identification (DVI) menggunakan sejumlah metode lain. Mulai pemeriksaan gigi, ciri medis dan fisik hingga pakaian serta barang pribadi yang masih ditemukan bersama jenazah.
Dompet, tas, pakaian, dan perhiasan dapat menjadi data pendukung untuk dicocokkan dengan data ante-mortem yang diperoleh dari keluarga.
Namun, metode tersebut juga menghadapi kendala. Barang pribadi dapat terlepas dari tubuh akibat terbawa arus. Pakaian pun bisa hilang sehingga tidak lagi ditemukan bersama jenazah.
“Hal-hal seperti itu yang menyulitkan kita untuk mencocokkan,” kata Wahyu.
Pemeriksaan gigi menjadi salah satu acuan penting dalam mengidentifikasi sejumlah jenazah. Data odontologi kemudian dibandingkan dengan informasi ante-mortem korban.
Tim DVI juga memeriksa ciri medis dan fisik. Pemeriksaan mencakup bentuk fisik luar, tanda medis khusus, luka, maupun ciri khas tubuh yang dapat dibandingkan dengan informasi dari keluarga.
Apabila berbagai metode tersebut belum menghasilkan kecocokan, pemeriksaan DNA menjadi salah satu metode yang digunakan.
Proses DNA membutuhkan waktu. Terlebih, jenazah korban tidak diterima secara bersamaan, melainkan datang secara bertahap.
“Datangnya periodik, datang lima, datang tujuh, datang 11. Nah, seperti itu. Sehingga pengiriman DNA-nya ke Jakarta juga periodik,” ujar Wahyu.
Menurut dia, pemeriksaan DNA membutuhkan waktu minimal sekitar lima hari. Karena itu, identitas korban tidak selalu dapat diketahui segera setelah sampel dikirim.
Tim DVI tetap melakukan pemeriksaan setiap hari, termasuk pada Sabtu dan Minggu, untuk mempercepat proses identifikasi.
“Kita berusaha agar semua jenazah yang hari ini diterima, hari ini selesai kita periksa,” katanya.
Setelah pemeriksaan post-mortem selesai, tim membandingkan hasilnya dengan data ante-mortem yang dikumpulkan dari keluarga korban.
41 Jenazah Sudah Teridentifikasi
Hingga Senin (28/9/2026), sebanyak 41 jenazah korban KMP Virgo Transport 8 telah berhasil diidentifikasi. Sementara 29 jenazah lainnya masih menjalani proses identifikasi.
Berdasarkan data Basarnas, dari total 243 orang dalam manifes KMP Virgo Transport 8, sebanyak 179 orang telah dievakuasi.
Rinciannya, 108 orang ditemukan selamat dan 71 orang meninggal dunia. Sementara 64 orang lainnya masih dalam pencarian.
Pada 28 September 2026, sebanyak 16 identitas korban diumumkan:
-
Tri Sutrisno (30), asal Kediri, Jawa Timur.
-
Riski Ananta Agusena (23), asal Kudus, Jawa Tengah.
-
Guntur Aji Pangestu (27), asal Kudus, Jawa Tengah.
-
Triyono Basuki (45), asal Surabaya, Jawa Timur.
-
Tihwin Nuryanto (43), asal Madiun, Jawa Timur.
-
Sugiatno (41), asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
-
Ilham Muhammad Rozzaq (21), asal Jepara, Jawa Tengah.
-
Yuli Purwanto (47), asal Tulungagung, Jawa Timur.
-
Muhammad Kholis (52), asal Surabaya, Jawa Timur.
-
Surono (38), asal Jombang, Jawa Timur.
-
Muhammad Adam Assegaf (19), asal Kudus, Jawa Tengah.
-
Susanto (36), asal Blitar, Jawa Timur.
-
Maulana Purwo Wibowo (19), asal Cilacap, Jawa Tengah.
-
Wati (48), asal Pangandaran, Jawa Barat.
-
Yaya Carya (58), asal Cirebon, Jawa Barat.
-
Bambang Setya Budi (56), asal Malang, Jawa Timur.
Editor : M. Ramli Arisno