RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Sebanyak 11 jenazah korban KMP Virgo Transport 8 kembali ditemukan dan dievakuasi dalam operasi pencarian hari ke-13, Jumat (25/9). Lima jenazah ditemukan tim penyelam gabungan dari dalam bangkai kapal. Sementara enam jenazah lainnya ditemukan di sejumlah wilayah pesisir Kalimantan Tengah (Kalteng).
Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana mengatakan lima jenazah dari dalam kapal dievakuasi oleh tim penyelam gabungan Basarnas Special Group (BSG) dan TNI Angkatan Laut. Kelima jenazah kemudian dibawa ke KN SAR Kamajaya dan KRI Gusti Ngurah Rai. Selanjutnya, jenazah direncanakan dievakuasi melalui udara menggunakan helikopter HR-3601 menuju Lanud Syamsudin Noor.
Pada saat bersamaan, tim SAR gabungan di Kalteng menemukan enam jenazah di sejumlah titik pesisir. Temuan tersebut berada di wilayah Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, serta Sungai Cabang PT Kumai Sentosa, Kabupaten Sukamara. Lokasi penemuan berjarak sekitar 135 nautical mile dari titik tenggelamnya Virgo Transport 8.
Enam jenazah dari Kalteng kemudian dievakuasi menuju RSUD Sukamara sebelum dibawa ke RS Bhayangkara Banjarmasin untuk penanganan lebih lanjut.
Asap Karhutla Hambat Evakuasi
Evakuasi enam jenazah dari Kalteng sempat direncanakan melalui jalur udara. Namun, rencana tersebut dibatalkan karena asap tebal akibat kebakaran hutan membuat penerbangan tidak memungkinkan. “Karena faktor kebakaran hutan, asap di sana tebal, sehingga kita putuskan evakuasi jenazah itu melalui jalur darat,” ujar Putu.
Proses evakuasi juga menghadapi medan yang sulit. Sejumlah lokasi penemuan berada di daerah terpencil dengan akses jalan yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
Petugas bahkan harus menggunakan kendaraan roda dua untuk membawa jenazah dari lokasi penemuan menuju titik evakuasi
Basarnas Dorong Bangkai Kapal Segera Diangkat
Sementara di lokasi bangkai kapal, proses pencarian masih menghadapi kondisi laut yang tidak bersahabat. Gelombang tercatat berkisar 1,75 hingga 2,5 meter. Arus bawah laut juga cukup kencang, dan dapat berubah sewaktu-waktu. Kondisi tersebut membuat jadwal penyelaman harus disesuaikan dengan hasil asesmen keselamatan di bawah air.
Putu mengatakan, penyelam hanya diturunkan ketika kondisi arus dinilai memungkinkan. Jeda waktu dimanfaatkan tim untuk memastikan proses penyelaman tetap aman.
Kondisi bangkai kapal juga menjadi kendala. Posisi kapal yang masih miring membuat sejumlah bagian sulit dijangkau. Memaksakan penyelam masuk ke area tertentu dinilai berisiko terhadap keselamatan.
Karena itu, Basarnas mendorong proses salvage atau pengangkatan badan kapal segera dipercepat.
Menurut Putu, pengangkatan badan kapal akan membuka akses ke lebih banyak bagian kapal yang saat ini sulit dijangkau penyelam.
Saat ini, penyelam hanya dapat memasuki bagian yang dinilai aman. Posisi kapal yang miring membuat tidak semua ruangan bisa diperiksa. “Begitu kapalnya diangkat, dibalikkan lagi seperti semula, kita lebih gampang mengevakuasinya,” katanya.
Basarnas telah menyampaikan dorongan tersebut kepada unsur terkait, termasuk KSOP dan Distrik Navigasi. Namun, keselamatan penyelam tetap menjadi pertimbangan utama. Setiap penyelaman harus didahului asesmen terhadap kondisi di bawah permukaan. “Semua kegiatan yang kami laksanakan harus berdasarkan asesmen terkait safety. Harus semuanya safety,” tegasnya.
161 Korban Telah Ditemukan
Dengan tambahan 11 jenazah pada hari ke-13, total korban yang telah dievakuasi mencapai 161 orang dari total person on board (POB) 243 orang.
Rinciannya, 108 orang selamat dan 53 orang meninggal dunia. Sementara 82 korban lainnya masih dalam pencarian.
Operasi SAR akan kembali dievaluasi untuk menentukan strategi pencarian berikutnya. Seluruh unsur SAR tetap dikerahkan melalui penyelaman di lokasi bangkai kapal, penyisiran permukaan, operasi udara, hingga pencarian di wilayah pesisir Kalteng.(van/gr/dye)
Editor : Arief M