RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terasa hingga ruang perawatan anak RSUD Ratu Zalecha Martapura.
Selama periode Agustus - pertengahan September 2026 saja, sebanyak 102 pasien Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Dari jumlah tersebut, mayoritas adalah pasien anak.
Kondisi itu terlihat saat jajaran Polres Banjar membesuk pasien yang dirawat akibat terpapar kabut asap pada Selasa (22/9/2026) lalu.
Kapolres Banjar, AKBP Boni Ariefianto mengatakan, saat kunjungan berlangsung terdapat empat anak yang sedang menjalani perawatan di Ruang Kelas 3 RSUD Ratu Zalecha.
"Saat itu ada empat anak yang kita besuk. Kita ingin melihat langsung kondisi mereka dan memberikan dukungan kepada anak-anak serta keluarganya," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (24/9/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi anak-anak yang terdampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam kunjungan yang berlangsung dalam suasana sederhana tersebut, Boni mengaku menyapa satu per satu pasien yang sedang menjalani pengobatan, termasuk seorang anak laki-laki yang tengah terbaring dengan tangan terpasang infus.
“Salahbsatu anak yang kami besuk kemarin sudah lima hari dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.
Selain itu, percakapan singkat kemudian berlangsung antara Boni dan pasien anak tersebut. Kapolres menanyakan cita-cita sang anak.
Jawaban yang diberikan cukup sederhana, tetapi membuat suasana ruang perawatan mencair.
Anak tersebut mengaku ingin menjadi polisi.
Boni bersama rombongan kemudian memberikan semangat kepada anak itu agar segera pulih dan kembali bersekolah.
Selain dukungan moril, rombongan juga menyerahkan tali asih, buah-buahan, dan bingkisan dari Bhayangkari Peduli kepada keluarga pasien.
Boni mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi anak-anak yang tengah menjalani perawatan di tengah persoalan karhutla.
"Musibah karhutla ini menjadi keprihatinan kita bersama. Karena itulah, kami ingin memastikan bahwa jajaran kepolisian senantiasa hadir di tengah masyarakat," ujarnya.
Ia menegaskan perhatian terhadap dampak karhutla tidak hanya dilakukan melalui penanganan kebakaran di lapangan.
Aspek kemanusiaan, kata dia, juga menjadi perhatian, terutama terhadap masyarakat yang terdampak.
Bukan tanpansebab, kondisi tersebut terjadi ketika kasus ISPA di Kabupaten Banjar menunjukkan angka yang cukup tinggi.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, tercatat 9.718 kasus ISPA secara kumulatif pada periode 5 Juli hingga 5 September 2026.
Di RSUD Ratu Zalecha, peningkatan kasus gangguan pernapasan juga terlihat dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Agustus, rumah sakit mencatat 92 kasus ISPA pada pasien anak maupun dewasa yang menjalani rawat inap. Selain itu, terdapat 21 kasus pneumonia pada periode yang sama.
Bahkan Sejak Juni hingga Agustus 2026, terdapat 326 kasus dengan ISPA sebagai salah satu diagnosis penyerta pada pasien rumah sakit.
Sebelumnya, pada awal September, tiga anak juga masih menjalani rawat inap di RSUD Ratu Zalecha dengan diagnosis ISPA. Salah satunya mengalami ISPA disertai bronkopneumonia.
Pihak rumah sakit menyebut asap karhutla dapat menjadi salah satu faktor yang memicu atau memperburuk gangguan pernapasan.
Karena itulah, Kapolres memastikan jajarannya tidak akan membiarkan penanganan karhutla berhenti pada pemadaman api.
Menurutnya, upaya mencegah dampak yang lebih luas juga harus dilakukan dengan memastikan masyarakat mendapat perlindungan.
"Kita sudah instruksikan seluruh anggota untuk selalu siap 1×24 jam dalam penanganan karhutla, sehingga titik-titik api bisa segera kita tangani dan tidak semakin meluas," tegasnya.
Ia berharap upaya penanganan karhutla dapat membantu mengurangi paparan asap yang dirasakan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.
"Kita ingin masyarakat, khususnya anak-anak, tidak terus terdampak akibat asap ini. Karena itu, penanganan karhutla harus kita lakukan bersama-sama dan semaksimal mungkin," pungkas Boni.
Editor : Arif Subekti