3.000 Pohon Semangka Siap Panen Jadi Abu, Petani di HSS Gagal Kantongi Rp100 Juta

M Padil Ihsan • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 16:57 WIB
ILUSTRASI: Petani Semangka meratapi nasib kebun semangka nya yang hangus terbakar. (Foto: Chat GPT AI)
ILUSTRASI: Petani Semangka meratapi nasib kebun semangka nya yang hangus terbakar. (Foto: Chat GPT AI) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN - Nasib nahas menimpa Saleh, seorang petani semangka asal Desa Pihanin Raya, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Ia harus menanggung kerugian besar setelah lahan pertaniannya terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi pada Jumat (4/9/2026) lalu.

Tak kurang dari 3.000 pohon semangka siap panen miliknya hangus menjadi abu.

Saleh menceritakan, ia tidak mengetahui secara pasti jam berapa api mulai berkobar pada hari itu.

Saat kejadian, dirinya sedang berada di rumah mertuanya di daerah hilir, sementara pusat titik api dilaporkan berasal dari daerah hulu.

"Sepulang dari masjid setelah makan bersama istri, tiba-tiba warga kampung heboh berteriak ada kebakaran. Saya langsung keluar rumah," ujarnya Rabu (23/9/2026) menceritakan kepada media ini. 

Melihat kobaran api yang sudah membesar di daerah hulu, Saleh langsung bergegas menuju ke lahan semangka miliknya.

Perjalanan menuju lokasi pun tidak mudah. Ia harus menggunakan perahu jukung, kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh lebih dari 100 meter agar bisa sampai ke tempat tujuan.

Sesampainya di lokasi, lahan semangkanya sebenarnya masih dalam kondisi aman.

Namun, kondisi angin yang bertiup sangat kencang membuat situasi cepat berubah lantaran api terus membesar.

Alhasil, si jago merah menjalar dan melahap habis seluruh tanamannya pada malam hari selepas waktu Isya.

Akibat musibah ini, Saleh memperkirakan kerugian materiil yang dialaminya mencapai kurang lebih Rp30 juta.

Modal bertani tersebut didapatkannya dari hasil pinjaman ke berbagai pihak. 

Semula, ia menaruh harapan besar bisa melunasi utang-utang tersebut setelah musim panen tiba.

Namun, rencana itu gagal total lantaran seluruh lahan miliknya kini sudah rata dengan tanah.

Padahal, potensi pendapatan dari hasil panen kali ini terbilang sangat menggiurkan.

Saleh memperkirakan bisa mengantongi pendapatan minimal Rp100 juta, mengingat harga komoditas semangka di pasaran saat ini sedang melonjak mahal.

Lebih lanjut, Saleh menjelaskan bahwa proses budidaya tanaman semangka dari masa tanam hingga siap petik biasanya memakan waktu sekitar dua bulan. "Bisa dalam waktu 58 hari atau 62 hari," ungkapnya. 

Kegagalan panen ini menyisakan beban berat bagi Saleh, yang kini harus mencari cara lain untuk melunasi utang modal usahanya.

Karhutla hari itu tidak hanya menghanguskan ribuan pohon semangka siap petik, tetapi juga membakar habis harapan besar yang sudah dirawatnya selama dua bulan terakhir.

"Hati tidak sanggup menerima semangka sudah mau panen tapi terbakar," pungkasnya.

Editor : Arif Subekti
petani semangka pohon semangka gagal panen hulu sungai selatan hangus terbakar