‎​Waduh, Kemarau di Kalsel Diperkirakan Masih 50 Hari Lagi, Menhut Malah Bilang Begini 

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 16:12 WIB
Menhut Raja Juli saat mengunjungi titik lokasi karhutla di Jalan Gubernur Syarkawi Km 17, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar (sheilla/radar banjarmasin)
Menhut Raja Juli saat mengunjungi titik lokasi karhutla di Jalan Gubernur Syarkawi Km 17, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar (sheilla/radar banjarmasin) 

‎‎RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU— Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) diperkirakan masih berlangsung cukup panjang. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino membuat datangnya musim hujan di Kalsel menjadi salah satu yang paling lambat. 
‎
‎Hujan diprakirakan baru membasahi bumi Antasari pada dasarian pertama November 2026.
‎
‎​Menanggapi potensi krisis tersebut, Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni bergerak cepat.
‎
Ia menginstruksikan seluruh jajaran terkait untuk memperketat barisan dan memperkuat personel satuan tugas (satgas) darat dalam menghadapi masa kritis selama 50 hari ke depan.
‎
‎​"Artinya masih ada 50 hari lagi Kalsel tanpa hujan normal. Oleh karena itu, tadi disepakati di forum bersama Pak Sekda, Pak Bupati, Danrem, hingga Wakapolda, bahwa kita masih punya 50 hari lagi untuk memperkuat pasukan darat kita," tegas Raja Juli saat meninjau titik karhutla di Jalan Gubernur Syarkawi Km 17, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Rabu (23/9/2026).
‎
‎​Raja Juli optimistis dengan pengerahan dan penguatan personel darat secara masif, potensi munculnya titik panas (hotspot) maupun titik api bisa ditekan signifikan. 
‎
‎Apalagi, jika dibandingkan dengan provinsi tetangga, grafik titik api di Kalsel saat ini terbilang cukup landai.
‎
‎​Meski fokus pada jalur darat, penanganan dari udara tetap disiagakan. Pemerintah mengerahkan enam unit pesawat di wilayah Kalsel, di mana dua unit di antaranya khusus dioperasikan untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian garam picu hujan buatan.
‎
‎​Guna memastikan seluruh operasional penanggulangan berjalan tanpa kendala logistik, Pemerintah Pusat mengucurkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp100 miliar langsung ke pemerintah daerah. 
‎
‎Anggaran ini disalurkan di luar dana reguler yang telah dialokasikan Kemenhut, BNPB, maupun APBD setempat.
‎
‎​"Dari segi dana, ada Rp100 miliar yang diberikan kepada Pemda untuk BTT. Oleh karena itu, kita berharap semua tetap bekerja, bahu-membahu, dan bergotong royong memastikan api ini benar-benar padam," pangkasnya.

Editor : Arif Subekti
kemarau di kalsel akibat el nino hingga november penguatan satgas karhutla karhutla kalimantan selatan