RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA - Pencarian korban KM Virgo Transport 8 memasuki fase baru. Tim SAR gabungan kini memperkuat pencarian di bawah air dengan melibatkan personel penyelam dari sejumlah unsur.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar turut mengerahkan empat personel penyelam untuk bergabung dalam operasi SAR gabungan.
Keempat personel tersebut dikirim pada Sabtu (19/9) malam, dan langsung bergabung dengan tim SAR di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Mereka memiliki kompetensi water rescue dan penyelaman, sehingga disiapkan untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan di lingkungan perairan.
Kepala Bidang Pemadaman Penyelamatan dan Sarana Prasarana DPKP Kabupaten Banjar, M Kasyaf Ritaudi mengatakan pengerahan personel disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki. "Penugasan ini merupakan bentuk kesiapsiagaan dan tanggung jawab kemanusiaan DPKP Banjar dalam mendukung operasi SAR gabungan," kata Kasyaf, Senin (21/9) petang.
Menurutnya, pencarian di bawah air membutuhkan kemampuan khusus. Karena itu, empat personel yang diterjunkan tidak hanya memiliki kemampuan water rescue, tetapi juga sertifikasi penyelaman.
Keselamatan menjadi perhatian utama dalam setiap penyelaman. Bukan hanya korban yang dicari, tetapi juga keselamatan personel yang berada di dalam air. "Keselamatan korban adalah prioritas utama," ujarnya.
Namun, kondisi bawah air memiliki sejumlah risiko. Arus, kedalaman, jarak pandang, cuaca hingga kondisi bangkai kapal harus diperhitungkan sebelum penyelam diterjunkan. "Keselamatan rescuer juga tidak boleh diabaikan. Setiap tindakan harus dilakukan secara terukur, disiplin dan berdasarkan standar operasional penyelamatan," tegasnya.
Empat penyelam DPKP Banjar terdiri dari satu personel bersertifikasi level 2 dan tiga personel level 1. Mereka memiliki pengalaman menangani kondisi kedaruratan di sungai maupun danau.
Dalam operasi, satu personel dapat ditugaskan sebagai penyelam. Sementara tiga lainnya mendukung persiapan dan operasional dari atas kapal.
Seluruh kegiatan penyelaman tetap berada di bawah komando dan Standar Operasional Prosedur (SOP) Basarnas sebagai pengendali operasi SAR.
Sebelum penyelaman, tim melakukan penilaian risiko, briefing dan pembagian tugas. Peralatan yang digunakan juga disesuaikan dengan kondisi perairan serta metode pencarian.
Jika kondisi bawah air dinilai membahayakan, penyelaman dapat dihentikan. Personel juga dapat dirotasi apabila operasi berlangsung lama untuk menjaga kondisi fisik penyelam.
Pencarian menjadi semakin kompleks karena tim harus menghadapi kondisi di sekitar hingga bagian dalam bangkai kapal.
Sebelumnya, Basarnas menggunakan remotely operated vehicle (ROV) untuk melihat kondisi bagian dalam kapal. Teknologi tersebut membantu tim mendapatkan gambaran situasi bawah air sebelum penyelam melakukan pencarian secara langsung.
Pada Minggu (20/9), penyelam Basarnas Special Group (BSG) mulai masuk ke bagian dalam bangkai kapal. Operasi berlanjut pada Senin (21/9) dan tiga korban ditemukan di dalam kapal.
Keterlibatan empat penyelam DPKP Banjar menjadi bagian dari dukungan unsur daerah dalam operasi SAR yang masih berlangsung. Mereka tetap bekerja dalam koordinasi dan kendali Basarnas.
Kasyaf menegaskan DPKP Banjar akan terus memberikan dukungan sesuai kapasitas dan kompetensi personel yang dimiliki. "Bagi kami, tugas penyelamatan bukan sekadar pekerjaan, tetapi merupakan panggilan kemanusiaan," katanya.
"Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kompetensi yang dimiliki harus hadir dan memberikan manfaat," pungkasnya.(zkr/gr/dye)
Editor : Arief M