RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura - Sekitar tiga hektare lahan gambut di Desa Mandikapau Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, hangus dilalap api.
Kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembakaran tumpukan jerami sisa batang padi. Api kemudian merembet ke lahan sekitar setelah tertiup angin kencang.
Dugaan tersebut disampaikan personel Tim Aksi Karang Intan Aranio Tanggapp (RAKAT), Azim, berdasarkan kondisi yang ditemukan saat penanganan di lapangan.
Lahan yang terbakar ditumbuhi semak belukar dan jerami sisa batang padi. Kondisi material kering membuat api berpotensi meluas sehingga relawan bersama warga langsung melakukan pemadaman.
Penanganan dilakukan secara darat menggunakan dua unit alkon dan enam rol selang. Tim RAKAT juga mendapat dukungan dari personel Bumi Selamat Rescue (BUSER) 690 Banjar dan masyarakat setempat.
Pemadaman berlangsung sekitar tiga jam hingga api berhasil dikendalikan.
“Alhamdulillah penanganan juga dibantu oleh kawan-kawan dari BUSER 690 Banjar, juga warga, sehingga api tidak menjalar ke mana-mana,” ungkap Azim saat dikonfirmasi, Minggu (20/9/2026)
Setelah kobaran api berhasil dipadamkan, relawan tidak langsung meninggalkan lokasi.
Pembasahan dilakukan pada area yang telah terbakar untuk memastikan bara api tidak tersisa di dalam maupun di sekitar lahan.
Langkah tersebut, jelas Azim menjadi penting karena lokasi kebakaran merupakan lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara dan kembali memunculkan titik api.
“Kita juga pastikan api betul-betul padam dengan pembasahan agar tidak muncul lagi apinya,” lugas Azim.
Penanganan karhutla di lokasi tersebut juga menghadapi keterbatasan peralatan.
Menurut Azim, Tim RAKAT masih kekurangan masker dan memiliki keterbatasan selang pemadam. Kondisi itu menjadi salah satu kendala ketika harus menangani kebakaran dengan luasan cukup besar.
“Ya kita maksimalkan yang ada saja, semoga nanti ada penambahan fasilitas, terutama selang,” harapnya.
Warga Diminta Tak Bakar Lahan
Azim mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau.
Menurutnya, kondisi lahan yang kering ditambah tiupan angin kencang dapat membuat api dengan cepat merembet ke area di sekitarnya.
Terlebih, pembakaran yang semula dilakukan pada tumpukan atau material tertentu dapat meluas apabila tidak dikendalikan dengan baik.
“Kondisi seperti sekarang membuat api cepat merembet. Jadi kami mengimbau masyarakat jangan membakar sembarangan, karena kalau sudah menjalar akan sulit dikendalikan,” tegas Azim.
Dugaan Sengaja Bukan Kali Pertama
Kebakaran di Mandikapau Timur bukan satu-satunya karhutla yang terjadi di kawasan Karang Intan dan sekitarnya.
Dalam beberapa kejadian lain, relawan juga menemukan indikasi yang memunculkan dugaan adanya aktivitas pembakaran sebelum api meluas.
Salah satunya terjadi di kawasan perkebunan karet warga di perbatasan Desa Karang Intan dan Desa Sungai Landas pada Selasa (15/9/2026).
Saat itu, sekitar satu hektare lahan terbakar. Api membakar dedaunan dan material kering di bawah pohon karet, namun tidak sampai membakar batang maupun pohon karetnya.
Azim menyebut kemungkinan adanya pembakaran sengaja dalam sejumlah kejadian karhutla yang mereka tangani.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
“Dimungkinkan ada yang sengaja membakar. Kemarin sempat ada yang kepergok, tetapi langsung lari,” katanya.
Editor : Sutrisno