RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Memasuki hari keenam pencarian korban KM Virgo Transport 8, keluarga meminta tim SAR memperluas penyisiran hingga pulau-pulau kecil dan tidak berpenghuni. Permintaan itu disampaikan saat keluarga bertemu perwakilan PT Virgo Karya Shipping di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Jumat (18/9/2026) petang.
Keluarga berharap pencarian tidak hanya terkonsentrasi di sekitar bangkai kapal. Mereka menilai korban yang berada di luar kapal saat KM Virgo Transport 8 terbalik memiliki kemungkinan terbawa arus dan gelombang menjauh dari lokasi kejadian.
Riris, istri Kepala Kamar Mesin (KKM) KM Virgo Transport 8, Jumri, menjadi salah seorang keluarga yang menyampaikan permintaan tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpunnya dari sejumlah ABK yang selamat, Riris mengatakan Jumri berada di luar kapal ketika kapal tiba-tiba terbalik.
Beberapa saksi, menurut Riris, melihat Jumri terlempar ke laut bersama kapten, electrician, dan second engineer. Jumri disebut sempat muncul kembali ke permukaan sebelum akhirnya terpisah dari kapten akibat hempasan ombak.
Keterangan tersebut membuat Riris berharap pencarian diperluas. Ia melihat kemungkinan suaminya terbawa arus dan gelombang hingga jauh dari lokasi kapal tenggelam.
“Kalau suami saya ditemukan sudah tidak tertolong, dia itu pasti mengapung. Pasti ditemukan tim kapal,” ujarnya.
Menurut Riris, kemungkinan lain adalah Jumri terdampar di pulau kecil yang tidak berpenghuni atau sulit diakses. Kondisi itu, menurut dia, bisa menjadi salah satu kemungkinan mengapa keberadaan suaminya belum diketahui hingga hari keenam pencarian.
Jika Jumri terdampar di kawasan berpenghuni dalam kondisi masih hidup, Riris menduga kabar penemuannya semestinya cepat tersebar melalui media sosial.
“Kalau dia di darat, posisi linglung, lemas atau tidak sadar, sekarang kan viral. Pasti sudah diviralkan penemuan-penemuan seperti itu,” katanya.
Atas dasar itu, ia meminta pulau-pulau di sekitar wilayah pencarian turut diperiksa.
“Saya minta pulau-pulau terdekat untuk dilakukan pemeriksaan,” tegasnya.
Kapten Disebut Ikut Terhempas
Dalam pertemuan tersebut, keluarga juga meluruskan informasi yang beredar mengenai posisi kapten ketika kapal terbalik.
Riris membantah anggapan bahwa kapten meninggalkan kapal untuk menyelamatkan diri. Berdasarkan keterangan ABK yang selamat dan mengetahui posisi terakhir Jumri, menurut dia, kapten justru ikut terhempas ke laut ketika kapal terbalik.
“Terbalik. Bukan seperti ada berita yang bilang meninggalkan kapal menyelamatkan diri. Itu salah besar,” ucapnya.
Riris mengatakan tidak ingin memperpanjang perdebatan mengenai siapa yang harus disalahkan. Baginya, fokus saat ini adalah memastikan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan dilakukan semaksimal mungkin.
“Saya juga mendengar mereka membantu petugas kami, banyak yang hilang. Mereka pasti membantu para korban, termasuk kapten. Tidak mau menyalahkan, lebih baik fokus ke penyelesaian pencarian,” katanya.
Riris juga mengingat komunikasi terakhir dengan Jumri sebelum kejadian. Sekitar pukul 10.00, suaminya sempat menghubunginya dan mengeluhkan kondisi ombak.
“Cuma suami saya bilang, ‘Ombaknya kencang, badanku sakit semua’,” tutur Riris.
Menurut Riris, Jumri terbiasa tidak memegang telepon seluler ketika terjadi gangguan teknis di kapal. Dalam kondisi tertentu, suaminya bahkan bisa tidak menghubunginya selama berhari-hari.
Sebagai KKM, Riris menduga Jumri dalam posisi siaga ketika kondisi kapal mulai darurat. Begitu pula dengan kapten yang menurutnya kemungkinan berada di anjungan.
“Kalau posisi kapal lagi darurat, suami saya sama kapten itu sudah pasti standby di anjungan,” katanya.
Posisi terakhir Jumri dinilai penting untuk menentukan arah pencarian. Apabila benar sudah berada di luar ketika kapal terbalik, Riris berharap masih ada kemungkinan suaminya terbawa arus ke lokasi lain.
“Kalau sudah di dalam kapal, terjebak di dalam kapal, enggak ada kemungkinan. Tapi kalau dia sudah dipastikan di luar kapal, peluang selamat itu besar,” sebutnya.
Senada, Juru Bicara Pemilik KM Virgo Transport 8, Simson Rihi, membantah anggapan bahwa kapten tidak berupaya menyelamatkan orang lain saat kondisi darurat.
Simson mengaku memperoleh kesaksian dari salah seorang sopir yang selamat bahwa kapten justru membantunya saat kapal dalam kondisi darurat.
“Kapten sudah ada konfirmasi dari salah satu sopir yang selamat. Bukan kami membela, disampaikan bahwa tanpa ditolong kapten, dia sudah meninggal,” katanya.
Simson menyebut Kapten Arief Yunianto bersama sejumlah anak buah kapal (ABK) masih berada di Polairud untuk menjalani pemeriksaan.
Perusahaan Bantah Human Error
Terkait sistem peringatan darurat, Simson menyatakan alarm KM Virgo Transport 8 berfungsi. Menurutnya, sistem tersebut terhubung dengan pusat informasi sehingga sinyal keadaan darurat dapat diketahui Basarnas maupun kapal-kapal di sekitar lokasi.
“Alarm ada dan itu otomatis berbunyi. Jika tidak, mana mungkin Basarnas dan kapal-kapal terdekat mendapat pemberitahuan darurat tersebut,” jelasnya.
Namun, Simson mengatakan bunyi alarm tidak berlangsung lama. Menurut dia, kondisi itu berkaitan dengan kapal yang dengan cepat mengalami kemiringan sebelum kemudian tenggelam.
“Karena kemiringan kapal lebih cepat, jadi kemungkinan ada di bagian-bagian tertentu yang tidak terdengar. Dan posisi sudah mulai miring,” terangnya.
Dari sisi perlengkapan keselamatan, Simson menyebut kapal dilengkapi ratusan alat keselamatan, termasuk pelampung dan life raft atau rakit penolong.
Menurut dia, life raft dapat mengembang otomatis ketika dilepas ke laut maupun saat kapal tenggelam. Satu rakit disebut memiliki kapasitas hingga 23 orang.
Simson mengatakan salah satu rakit penolong bahkan ditemukan terbawa hingga Seruyan, Kalimantan Tengah.
Mengenai kondisi kapal, Simson menyebut KM Virgo Transport 8 telah menjalani rebuild atau pembangunan ulang pada 2025 di Batam. Menurutnya, kapal telah melalui pemeriksaan dan pemenuhan persyaratan kelaiklautan sebelum dioperasikan.
“Kami sudah melakukan rebuild, tahun 2025 di Batam. Artinya kita bisa pakai untuk perhitungan usia pembangunan kapal,” katanya.
Ia mengklaim kondisi kapal sebelum kejadian dalam keadaan baik dan siap berlayar.
“Karena kondisi kapal 98 persen kondisi baik dan siap laik layar,” ujar Simson.
Simson belum memberikan penjelasan teknis mengenai penyebab kapal miring hingga tenggelam. Ia menyebut kejadian tersebut berkaitan dengan faktor alam yang dialami kapal.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan kesalahan teknis maupun human error, Simson membantah kedua faktor tersebut.
“Saya berani sampaikan bahwa tidak ada kesalahan teknis dan tidak ada human error di sini,” tegasnya.
Simson juga mengatakan perusahaan telah melakukan sejumlah tindakan sejak awal kejadian.
“Dari awal sampai dengan saat ini, kami punya bukan pernyataan, Pak, tapi aksi yang sudah kami lakukan. Jadi kami tidak pernah menjanjikan, tapi kami sudah melakukan apa yang harus sudah kami lakukan dari hari pertama kejadian itu terjadi,” pungkasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno