RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Kondisi laut di lokasi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 mulai lebih bersahabat pada hari kelima operasi SAR, Kamis (17/9/2026). Arus bawah laut yang sebelumnya mencapai 6,8 knot turun menjadi sekitar 1,8 hingga 2 knot.
Perubahan kondisi tersebut memungkinkan tim penyelam TNI AL dan Kopaska turun ke bawah permukaan. Penyelaman dilakukan dari KRI GNR sejak pukul 06.00 hingga 14.00 Wita untuk melihat langsung kondisi badan kapal.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo Nur Sasongko mengatakan, tim penyelam juga telah memasang tali tambat untuk membantu proses pergerakan penyelam dari permukaan menuju kedalaman.
Selain itu, penyelam mendokumentasikan kondisi badan kapal yang berada di dalam air.
Dari hasil penyelaman, seluruh bagian badan kapal disebut masih dapat terlihat dengan jelas, mulai dari buritan hingga haluan.
Kondisi air di sekitar objek juga dinilai cukup jernih. Yudhi menyebut tidak ditemukan kebocoran dari kapal maupun tanda-tanda polusi di sekitar lokasi.
Kondisi itu menjadi perkembangan penting menjelang pelaksanaan operasi salvage atau pengangkatan bangkai kapal.
Terlebih, badan kapal masih dalam kondisi kedap dan sebagian besar bagian di dalamnya belum terbuka.
“Yang jelas, malam ini perlengkapan untuk operasi tersebut sudah digeser dari Surabaya menuju langsung ke lokasi,” ujar Yudhi dalam pemaparan perkembangan operasi SAR, Kamis malam.
Perlengkapan Salvage Digeser
Yudhi menjelaskan, perlengkapan yang dibutuhkan untuk operasi salvage mulai dikirim oleh pihak pemilik kapal.
Tim SAR bersama owner dan para ahli terus berkoordinasi agar proses pengangkatan dapat segera dilaksanakan.
Sebelumnya, keputusan untuk mengangkat bangkai KM Virgo Transport 8 telah menjadi bagian dari langkah lanjutan operasi SAR setelah 114 orang berhasil ditemukan dan dievakuasi.
Posisi kapal sendiri telah bergeser sekitar 453 meter ke arah tenggara dari posisi awal. Kedalamannya juga bertambah dari sekitar 21 meter menjadi 29 meter.
Yudhi bersama sejumlah unsur terkait sebelumnya meninjau lokasi menggunakan helikopter HR-3601 Basarnas.
Dari udara, badan kapal masih dapat terlihat dengan jelas meski sudah berada di kedalaman sekitar 29 meter. Kapal juga disebut mengalami kemiringan dan diduga tersangkut di sekitar lokasi.
Kondisi tersebut membuat posisi kapal relatif berada di area yang sama, meski sebelumnya sempat terlihat seperti melayang di bawah permukaan.
Jika nantinya kapal berhasil diangkat, proses pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan dan evakuasi.
Tim akan mengecek bagian dalam kapal yang masih kedap untuk memastikan kemungkinan adanya korban yang masih berada di dalamnya.
Setelah itu, bangkai kapal akan digeser ke lokasi yang ditentukan untuk kebutuhan pemeriksaan lebih lanjut oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Tim Penyelam Turun
Selain tim penyelam dan Kopaska, operasi di lokasi juga melibatkan sejumlah unsur pendukung.
Komando Armada II melalui Guskamla II memimpin unsur-unsur KRI yang berada di lokasi dari KRI GNR.
Sementara itu, Dinas Navigasi memasang buoy atau rambu peringatan di sekitar lokasi kejadian.
Pemasangan dilakukan sejak sekitar pukul 06.00 hingga 11.00–12.00 Wita untuk memberikan tanda kepada kapal yang melintas.
Rambu tersebut dipasang untuk menjaga keselamatan pelayaran sekaligus mencegah gangguan terhadap kegiatan operasi di sekitar lokasi kapal tenggelam.
Kondisi cuaca pada hari kelima juga lebih mendukung dibanding hari-hari sebelumnya.
Sebelumnya, penyelaman terkendala arus bawah laut hingga 6,8 knot, angin kencang, serta gelombang yang mencapai sekitar 2,5 hingga 3 meter.
Dengan arus yang kini berada di kisaran 1,8 hingga 2 knot, penyelam dapat bekerja lebih leluasa.
Yudhi berharap kondisi laut tetap stabil dalam tiga sampai empat hari ke depan sehingga proses salvage dapat berjalan.
“Kami berharap tiga sampai empat hari ke depan kondisinya seperti ini, sehingga kita akan melaksanakan itu, tetap kita upayakan,” katanya.
Enam Life Raft Diamankan
Dalam perkembangan lain, tim juga mengamankan temuan enam unit life raft atau perahu karet penyelamat di perairan Kalimantan Tengah.
Temuan tersebut diamankan oleh Kantor SAR Palangkaraya. Beberapa di antaranya disebut masih dalam kondisi mengembang.
Barang-barang tersebut selanjutnya akan digeser ke Banjarmasin untuk diserahkan kepada KNKT sebagai bagian dari kebutuhan pemeriksaan dan penyelidikan kecelakaan.
Yudhi menegaskan, operasi SAR tetap berfokus pada upaya pengangkatan kapal. Tim juga terus berkomunikasi dengan pihak pemilik kapal dan para ahli yang terlibat dalam operasi salvage.
“Kita paham kondisi keluarga korban yang saat ini juga sudah menunggu sampai dengan hari kelima ini. Harapan kami agar operasi salvage ini juga bisa berjalan dengan cepat,” tutupnya.
Editor : Arif Subekti