RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Eskalasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Balangan terus menunjukkan grafik peningkatan. Sepanjang tahun 2026 hingga pertengahan September, ratusan hektare lahan telah hangus dilalap api akibat puluhan rentetan kejadian.
Berdasarkan rilis data resmi Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan per 14 September 2026, luasan lahan yang tertangani akibat kebakaran telah mencapai 233,305 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Balangan, H. Rahmi, membenarkan tingginya intensitas kebakaran yang menuntut tim satgas di lapangan untuk terus menyiagakan personel.
“Hingga pertengahan September ini, akumulasi luasan lahan yang berhasil kita tangani sudah mencapai 233 hektare lebih. Angka ini berasal dari 75 kali kejadian karhutla yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan,” ujar H. Rahmi, Kamis (17/9).
Secara frekuensi, Kecamatan Batumandi tercatat sebagai wilayah dengan kejadian tertinggi, yakni mencapai 19 kali penanganan. Posisi kedua ditempati oleh Kecamatan Lampihong dengan 15 kejadian.
Menurut Rahmi, kawasan Lampihong belakangan memang terus menjadi prioritas penanganan karena rentetan kebakaran yang melanda area lahan gambutnya.
“Kalau dari frekuensi pemadaman langsung di lapangan, tim kami memang paling sering turun ke wilayah Batumandi dan Lampihong. Khusus di Lampihong, penanganannya membutuhkan tenaga ekstra karena karakteristik lahannya yang bergambut,” jelasnya.
Menariknya, temuan berbeda terlihat dari pantauan satelit. Berdasarkan dokumen rekapitulasi titik hotspot BPBD Balangan, Kecamatan Paringin justru menjadi episentrum dengan deteksi suhu permukaan tertinggi, mencapai 465 titik hotspot sepanjang 2026. Lampihong mengekor di posisi kedua dengan sebaran 256 titik hotspot.
Secara kumulatif, pantauan satelit mendeteksi lebih dari 1.149 titik panas yang tersebar di delapan kecamatan se-Balangan. Lonjakan titik api terparah mulai terjadi saat memasuki puncak kemarau, di mana data mencatat temuan 525 titik panas sepanjang bulan Agustus dan 357 titik pada paruh pertama September.
Rahmi tidak menampik bahwa tingginya akumulasi hotspot dalam dua bulan terakhir inilah yang memicu pekatnya kabut asap di kawasan pusat kota, hingga berdampak pada penyesuaian aktivitas masyarakat dan sekolah.
“Memang ada perbedaan antara frekuensi darat dan pantauan satelit. Titik panas atau hotspot justru paling padat terdeteksi di Kecamatan Paringin. Puncak kemunculan hotspot ini terjadi sejak Agustus dan terus berlanjut di September, yang pada akhirnya memicu pekatnya kabut asap di pusat kota saat ini,” tutupnya.