RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Operasi pencarian korban KMP Virgo Transport 8 memasuki hari keempat, Rabu (16/9/2026), tanpa tambahan korban yang ditemukan. Upaya pencarian bawah air juga terkendala arus yang mencapai 6,8 knot.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Moch. Syafii mengatakan, operasi SAR tetap dilakukan melalui pencarian di permukaan dengan mengerahkan unsur laut dan udara. Tim juga telah merencanakan pencarian bawah air atau underwater.
Namun, penyelaman belum dapat dilakukan secara maksimal karena kuatnya arus bawah air di sekitar lokasi kecelakaan.
“Kecepatan arus di lokasi mencapai di atas 6 knot, bahkan mendekati 7 knot. Sementara sesuai ketentuan, penyelaman itu direkomendasikan dengan catatan kecepatan arus di bawah 1,5 knot,” ujar Syafii kepada awak media, Rabu malam.
Atas pertimbangan keselamatan, penyelam yang diterjunkan dari KRI akhirnya ditarik kembali setelah menuju titik penyelaman yang direncanakan.
Danlanal Banjarmasin Letkol Laut Galih Nurna Putra mengatakan, TNI AL telah mengerahkan dua tim penyelam. Masing-masing satu tim Kopaska dan satu tim Koppeba TNI AL.
Tim sempat berupaya melakukan penyelaman. Namun, arus bawah air yang mencapai sekitar 6,8 knot membuat operasi membutuhkan teknik dan peralatan khusus.
“Tadi sudah disampaikan oleh Kabasarnas bahwa bagaimana arus di dalam air mencapai 6,8 knot yang tidak mudah untuk melaksanakan penyelaman,” katanya.
Bangkai Kapal Bergeser 450 Meter
Kondisi pencarian semakin menantang karena posisi KMP Virgo Transport 8 terus berubah. Syafii mengatakan, bangkai kapal telah bergeser sekitar 450 meter dari titik datum awal pencarian.
Kedalaman posisi kapal juga berubah. Sebelumnya, kapal disebut masih mengapung dengan bagian tertentu berada pada kedalaman sekitar 21 meter. Kini posisinya mencapai kedalaman sekitar 29 meter di bawah permukaan.
“Kemarin yang kita menganggapnya kapal dalam kondisi masih mengapung dengan kedalaman 21 meter, bergeser sekarang di kedalaman 29 meter,” ungkapnya.
Perubahan tersebut turut memengaruhi perencanaan penyelaman. Sebelum penyelam diturunkan, tim membutuhkan data pendukung mengenai struktur dan bagian kapal serta kondisi aktual di bawah air.
Observasi menjadi tahapan awal untuk mencocokkan kondisi lapangan dengan data yang dimiliki. Hasilnya kemudian menjadi dasar menyusun skema penyelaman secara bertahap.
Dengan arus yang belum memungkinkan penyelaman dilakukan secara maksimal, Basarnas menyiapkan skema alternatif berupa salvage.
Skema tersebut dirancang untuk mengubah posisi kapal sehingga tim mendapatkan akses untuk mencari dan mengevakuasi korban yang diduga masih berada di dalam bangkai KMP Virgo Transport 8.
Syafii menegaskan, pencarian dan evakuasi korban tetap menjadi prioritas. Setelah proses SAR dinyatakan selesai, penanganan kapal dapat dilanjutkan untuk kepentingan investigasi.
“Ini bukan kegiatan murni yang dimiliki oleh Basarnas dan juga dilakukan oleh Basarnas. Karena itu kita melibatkan para expert, orang-orang ahli yang memiliki kemampuan itu,” jelasnya.
Tim Ahli Siapkan Salvage
Pelaksanaan salvage dikoordinasikan bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub), pemilik kapal, serta melibatkan tenaga ahli dari dalam maupun luar negeri.
Sebagian tenaga ahli telah tiba di Banjarmasin. Tim tambahan dijadwalkan datang Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 10.00 Wita.
Setelah tim lengkap, observasi melalui udara akan dilakukan untuk melihat kondisi kapal dan lokasi. Hasil asesmen kemudian dibahas dalam rapat koordinasi guna menentukan sarana dan prasarana yang diperlukan.
Peralatan salvage dapat didatangkan dari Surabaya, Kalimantan, maupun daerah lain sesuai kebutuhan berdasarkan hasil asesmen.
Jika seluruh tahapan berjalan lancar, proses salvage diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Estimasi tersebut masih dapat berubah bergantung pada kendala dan kondisi di lapangan.
Syafii mengatakan, skema tersebut menjadi salah satu peluang yang harus dimanfaatkan mengingat posisi bangkai kapal terus mengalami perubahan.
“Ini adalah peluang. Kita tidak mungkin berlama-lama,” katanya.
Menurutnya, rencana tersebut juga berkaitan dengan ketentuan dalam Undang-Undang Pelayaran mengenai kewajiban pemilik kapal memindahkan bangkai yang mengganggu pelayaran atau alur laut aktif.
Namun, salvage dalam operasi kali ini diarahkan untuk membantu pencarian dan evakuasi korban. Basarnas berkoordinasi dengan Kemenhub serta melibatkan pemilik kapal dan tenaga ahli.
Sementara persiapan salvage berlangsung, operasi SAR di permukaan tetap berjalan sesuai rencana yang ditetapkan Basarnas Command Center.
Operasi diawali dengan SAR Map yang kemudian diterjemahkan Search Mission Coordinator (SMC) untuk membagi potensi SAR ke sejumlah sektor pencarian.
Operasi dilaksanakan selama 7 x 24 jam bagi sarana dan alutsista yang memungkinkan beroperasi tanpa henti. Sementara sarana seperti pesawat menyesuaikan batas operasional masing-masing.
Untuk operasi hari kelima, Kamis (17/9/2026), pembagian sektor pencarian kembali mengacu pada SAR Map yang dikeluarkan Basarnas Command Center.
Tim SAR akan tetap melakukan pencarian di permukaan sambil menunggu kondisi arus memungkinkan pencarian bawah air dilanjutkan. Pada saat bersamaan, persiapan salvage dilakukan sebagai alternatif untuk membuka akses pencarian ke dalam bangkai KMP Virgo Transport 8. (*)
Editor : M. Ramli Arisno