Polisi Ungkap Kronologi Karhutla yang Tewaskan 10 Bekantan di Desa Balimau HSS

M Padil Ihsan • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 19:49 WIB

 

DIPERIKSA: Petugas mengecek bangkai bekantan yang ditemukan di area bekas kebakaran hutan dan lahan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten HSS. (Foto: Polsek Kalumpang untuk Radar Banjarmasin)
DIPERIKSA: Petugas mengecek bangkai bekantan yang ditemukan di area bekas kebakaran hutan dan lahan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten HSS. (Foto: Polsek Kalumpang untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Sedikitnya 10 ekor bekantan ditemukan mati setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merembet ke habitat koloni satwa tersebut di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Kronologi kebakaran yang mengepung habitat bekantan itu terungkap dari hasil pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) Polsek Kalumpang, Senin (14/9/2026).

Kapolres HSS AKBP Awaludin Syam melalui Kapolsek Kalumpang AKP Samsi mengatakan, kobaran api menjalar hingga kawasan yang menjadi tempat berkumpulnya koloni bekantan.

"Kobaran api dan asap menyebabkan bekantan berhamburan untuk menyelamatkan diri. Namun, beberapa ekor terjebak di sekitar lokasi kebakaran sehingga tidak dapat menyelamatkan diri dan akhirnya mati terbakar," ujarnya.

Berdasarkan hasil pulbaket terhadap Kasi Tibum Kecamatan Kalumpang M Anwari, awalnya ditemukan satu ekor bekantan dalam kondisi mati.

Setelah api berhasil dipadamkan, petugas melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Dari penyisiran tersebut, kembali ditemukan beberapa ekor bekantan dalam kondisi mati.

Api Diduga Menyeberangi Sungai

Keterangan Kepala Desa Balimau Alamsyah mengungkap, api awalnya berasal dari wilayah Desa Karang Paci RT 01. Asap disebut sudah terlihat di kawasan tersebut selama beberapa hari.

Api kemudian membesar pada Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 15.00 Wita dan merembet hingga kawasan yang menjadi habitat koloni bekantan.

Berdasarkan hasil pulbaket, api diperkirakan menyeberangi sungai hingga mencapai habitat satwa tersebut.

"Penyebaran api diduga dipengaruhi angin yang cukup kencang dari arah selatan menuju utara. Akibat kebakaran, koloni bekantan berhamburan untuk menyelamatkan diri," kata Samsi dalam laporannya.

Saat kobaran api dan asap mengepung kawasan, koloni bekantan berusaha menyelamatkan diri. Namun, sebagian satwa tersebut diduga tidak melarikan diri ke arah jalan karena terdapat kerumunan relawan pemadam yang sedang melakukan penanganan kebakaran.

Kondisi itu diduga membuat sejumlah bekantan terjebak di sekitar kawasan yang terbakar.

Dari hasil pulbaket dan pengecekan lokasi, sebanyak 10 ekor bekantan berhasil diidentifikasi dalam kondisi mati.

Bangkai bekantan ditemukan di area kebakaran serta sejumlah titik di sekitarnya. Sebagian kemudian dikuburkan di sekitar lokasi kejadian.

Habitat Sudah Dipasangi Larangan Membakar

Koloni bekantan diketahui memang sering terlihat di sekitar permukiman Desa Balimau, termasuk kawasan yang kemudian terdampak karhutla.

Upaya perlindungan terhadap kawasan habitat tersebut sebelumnya telah dilakukan Pemerintah Desa Balimau.

Pada akhir Agustus 2026, pemerintah desa memasang spanduk larangan menebang pohon maupun melakukan pembakaran di sekitar habitat bekantan.

Namun, karhutla yang merembet dari kawasan lain akhirnya mencapai lokasi tempat koloni bekantan biasa berkumpul.

Hingga hasil pulbaket tersebut disampaikan, penyebab awal munculnya api di wilayah Desa Karang Paci RT 01 belum dijelaskan. (*)

 

Editor : M. Ramli Arisno
karhutla Hulu Sungai Selatan bekantan mati terbakar habitat bekantan Balimau karhutla Desa Balimau Polsek Kalumpang