RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Banjarbaru, memasuki babak baru. Setelah pemadaman permukaan selama 20 hari belum mampu menuntaskan api yang menjalar di bawah tanah, Satgas Karhutla Kalsel mengubah strategi dengan mengutamakan manajemen tata air gambut.
Ketua Penanganan Karhutla Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq, turun langsung memetakan kondisi lapangan di kawasan Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang.
Menurutnya, karakter gambut yang kering membuat api sulit dipadamkan karena terus menjalar di bawah permukaan tanah. Pergerakan api bahkan telah membakar vegetasi hingga hampir satu kilometer.
"Gambut ini sudah kita buktikan. 20 hari kita di sini, api tidak padam-padam. Maka kita kembali ke langkah konvensional dengan melakukan manajemen gambut melalui perendaman," tegas pria yang juga menjabat Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI tersebut.
Hanif mengatakan, pemerintah memetakan tiga kawasan utama yang menjadi prioritas penanganan, yakni Hutan Lindung Liang Anggang, Guntung Damar dan Pengayuan.
Di Hutan Lindung Liang Anggang dan Guntung Damar, penanganan dilakukan dengan metode perendaman melalui suplai air sungai hingga menjangkau kawasan sekitar bandara. Sementara di Pengayuan, pemerintah akan memanfaatkan dorongan pasang air laut untuk menaikkan muka air ke kawasan daratan.
"Bilamana kanal blocking mampu kita bangun, maka mungkin bulan Mei itu semua air sudah tidak bisa keluar, sehingga lahan akan selalu basah dan memudahkan kita mengendalikan api," ujar Hanif.
Strategi tersebut ditujukan untuk menjaga gambut tetap basah sehingga tidak mudah terbakar, sekaligus menjadi solusi jangka panjang untuk mengendalikan karhutla di kawasan gambut.
Untuk mendukung penanganan di kawasan prioritas, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran Rp9 miliar pada 2026 melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum.
Anggaran tersebut digunakan untuk membangun 30 unit sekat kanal, empat unit sumur resapan dalam, serta sumur-sumur penyuplai air dengan jarak antartitik sekitar satu kilometer.
"Jadi itu solusi permanen untuk jangka panjangnya. Selain itu, kita juga akan membangun semua sumur-sumur pada titik terpencar dengan interval mungkin satu kilometer untuk menyuplai drainase-drainase tadi," kata Hanif.
Selain penataan hidrologi sebagai solusi jangka panjang, Satgas Karhutla menyiapkan strategi jangka pendek untuk mencegah munculnya titik api baru di kawasan yang telah berhasil dipadamkan.
Salah satunya melalui taktik pagar betis dengan dukungan pemantauan drone secara masif. "Dari kepolisian mengusulkan pengaktifan drone secara masif untuk melakukan pagar betis. Kita juga mengusulkan penambahan pos penjagaan di areal Pengayuan ini," ujar Hanif. (she/al/ris)
Editor : Arief M