RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Sebanyak 69 korban selamat KM Virgo Transport 8 tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Minggu (13/9/2026) malam. Sejumlah korban mengaku sempat berjam-jam terapung di Laut Jawa hanya mengandalkan life jacket sebelum mendapat pertolongan.
Seluruh korban yang tiba disebut laki-laki. Mereka dibawa menggunakan KM Haeda setelah sebelumnya diselamatkan kapal pengangkut batu bara yang melintas di perairan Laut Jawa.
KM Haeda bersandar di Dermaga Pelabuhan Trisakti sekitar pukul 18.30 WITA.
Satu per satu korban kemudian dievakuasi menggunakan ambulans menuju lokasi penanganan sementara. Beberapa korban yang kondisinya memburuk langsung dirujuk ke Rumah Sakit TPT dan RSUD Ulin Banjarmasin.
Salah seorang korban, Rinto Ararap (33), warga Rimba Asam LK II RT 13, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, mengaku menumpangi KM Virgo Transport 8 bersama 14 rekannya.
Mereka hendak menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.
Saat kejadian, Rinto mengaku belum tidur. Ia bersama sejumlah rekannya berada di lantai tiga kapal.
Sebelum kapal mulai oleng, Rinto mendengar suara seperti benda retak. Mereka sempat mencari sumber suara tersebut, tetapi tidak menemukannya.
Tidak lama kemudian, menurut kesaksian Rinto, kapal oleng dan miring ke kiri.
“Kejadiannya singkat. Tidak lama setelah terdengar bunyi itu, kapal langsung oleng dan miring. Setelah itu perlahan-lahan karam,” kisah Rinto.
Berjam-jam Terapung di Laut
Rinto mengatakan kepanikan langsung terjadi. Para penumpang berusaha mencari jalan keluar dan perlengkapan untuk menyelamatkan diri.
Mereka kemudian mendapatkan rompi pelampung atau life jacket. Saat itu, menurut Rinto, sebagian besar penumpang sedang tertidur.
“Kejadiannya sekitar pukul 01.00 WITA dini hari. Sesaat begitu saja kapal berangsur karam setelah oleng ke kiri,” ujarnya.
Rinto mengaku tidak mendengar pemberitahuan dari kapten maupun awak kapal sebelum kapal semakin miring.
“Bahkan kapten kapal dan awak kapal tidak ada memberikan informasi atau pemberitahuan. Itu yang membuat semua penumpang panik,” katanya.
Menurut kesaksiannya, dalam hitungan menit posisi kapal semakin miring. Para penumpang kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan kemampuan masing-masing.
Rinto mengaku ikut terjun ke laut dan bertahan hanya dengan life jacket.
“Berjam-jam saya terombang-ambing di laut hanya bermodalkan life jacket. Setelah kapal tenggelam, kami pasrah dan terus berdoa, berzikir, yakin ada pertolongan dari Allah agar saya dan teman-teman bisa selamat,” ucapnya.
Para korban kemudian terpisah dan terapung di tengah laut dalam kondisi gelap.
Rinto mengatakan pertolongan datang beberapa jam kemudian. Sebuah kapal pengangkut batu bara yang melintas menemukan mereka.
“Sekitar pukul 04.00 kami mendapatkan pertolongan. Selama empat jam itu saya terus berdoa agar kami semua selamat. Alhamdulillah, pertolongan Allah datang dan kami selamat,” tuturnya lirih.
Rinto bersyukur 14 rekannya yang berangkat bersamanya dari Sumatera Selatan juga selamat.
“Saya bersyukur teman-teman saya yang merantau ke Kalimantan semuanya selamat,” sambungnya.
Ia menduga masih terdapat penumpang yang terjebak di dalam kapal. Terutama mereka yang berada di kelas ekonomi dan sedang tidur ketika kapal mulai miring.
“Cukup banyak. Kemungkinan mereka terjebak di dalam dan tidak bisa keluar karena sedang tidur,” bebernya.
Pernyataan tersebut merupakan dugaan Rinto berdasarkan situasi yang dialaminya saat kejadian. Belum ada keterangan pihak berwenang dalam naskah ini yang memastikan adanya korban terjebak di dalam kapal.
Penumpang Mengaku Tanpa Peringatan
Kesaksian serupa disampaikan Salihin (57), salah seorang penumpang yang bekerja sebagai kernet.
Salihin sedang tidur ketika kapal mulai mengalami masalah. Ia baru terbangun setelah dibangunkan rekannya.
“Kami kaget ketika dibangunkan. Kapal sudah dalam posisi miring. Pokoknya tiba-tiba saja, tidak ada pemberitahuan atau informasi melalui pengeras suara. Kejadiannya begitu cepat,” katanya.
Setelah berjam-jam berada di laut, tas selempang Salihin masih melekat di tubuhnya. Dompet dan telepon genggamnya juga masih berada di dalam tas tersebut.
“Uang dan identitas masih melekat di badan saya, handphone juga, tapi kemungkinan rusak karena terendam,” ujarnya.
Salah seorang kru kapal asal Jawa Barat, Akmal (28), juga mengaku sedang tidur saat kejadian.
Ia baru mengetahui kapal dalam kondisi miring setelah dibangunkan rekan-rekannya.
“Tidak dengar ada bunyi apa-apa karena saya tidur. Begitu bangun, langsung kami masing-masing berusaha menyelamatkan diri,” ujarnya.
Akmal menyebut terdapat sekitar 30 kru di KM Virgo Transport 8. Menurut dia, seorang rekannya meninggal dunia dalam musibah tersebut.
“Satu orang teman kami meninggal dunia. Dia juga kru kapal,” katanya.
Kesaksian para korban menggambarkan situasi ketika KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan hingga mereka berusaha menyelamatkan diri di Laut Jawa.
Namun, keterangan mengenai suara retakan, tidak adanya pemberitahuan sebelum kapal miring, maupun dugaan penumpang terjebak merupakan kesaksian korban. Penyebab pasti kecelakaan serta rangkaian kejadian masih memerlukan keterangan dan hasil pemeriksaan pihak berwenang. (*)
Editor : M. Ramli Arisno