Padamkan Kebakaran di Komplek DPR, Relawan BPK Tewas Tenggelam di Sungai Jafry Zamzam

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 09:27 WIB
Ilustrasi tenggelam
Ilustrasi tenggelam

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Kebakaran menggegerkan warga Kompleks DPR, RT 31, Jalan Bandarmasih, Banjarmasin Barat. Satu rumah hangus terbakar hingga hanya menyisakan dinding beton, Minggu (7/9/2026).

Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Namun, musibah justru menimpa seorang relawan swadaya BPK KTC, Firman Aryadi (28).

Firman diduga tenggelam di Sungai Zafry Zamzam saat hendak membantu proses pemadaman. Ia memilih bercebur ke sungai Jafry Zamzam karena titik kebakaran berada di seberang, dan jalur tersebut dinilai lebih dekat untuk mengambil air.

Rekan korban, Aufa Rizki (24) mengatakan Firman sebenarnya bisa berenang. Namun, ia sempat mengingatkan agar baju PDL yang dikenakan dilepas, karena dikhawatirkan menjadi berat ketika terkena air. “Jadi waktu lokasi mobil di seberang lokasi kebakaran, korban mau langsung ke sungai. Padahal sudah saya tegur agar (baju PDL, red) dilepas dahulu,” ujar Aufa.

Menurutnya, ada jalur lain yang lebih aman untuk mengambil air meski jaraknya sedikit lebih jauh. Namun, Firman memilih jalur sungai agar lebih cepat menyambungkan sumber air ke mesin pemadam.

Saat berenang, Firman masih terlihat hingga sekitar lima meter dari siring. Setelah itu, tubuhnya tiba-tiba tidak terlihat. “Sudah jauh kisaran lima meter lagi naik dari siring, tapi orangnya sudah tidak ada lagi, tenggelam. Bahkan tidak ada menunjukkan tanda mengepakkan tangan,” tuturnya.

Pencarian semakin sulit karena kondisi lokasi gelap. Lampu sedang mati, sehingga pandangan ke permukaan sungai terbatas.

Aufa kemudian mencoba mencari rekannya dengan menarik selang yang berada di sungai. Ia sempat menduga Firman masih berpegangan pada selang tersebut.

Namun, tarikan selang justru terasa seperti tersangkut sesuatu di bawah air. Setelah ditarik, Firman tidak ditemukan. “Saya tarik habis, tapi sudah tidak ada lagi. Posisi korban hilang. Saya bilang ke pemadam di sebelah, ‘Bang, kawan sayang hilang’,” katanya.

Saat kejadian, sungai dalam kondisi pasang dengan arus cukup deras. PDL yang dikenakan Firman juga diduga menjadi beban tambahan setelah terkena air. “PDL itu berat. Kalau baju biasa tidak apa-apa. Lekas kena air, berat juga,” jelas Aufa.

Pencarian dilakukan hingga Senin (8/9/2026) sekitar pukul 07.30 Wita. Jasad Firman akhirnya ditemukan setelah tim water rescue dan Satpolairud tiba membantu pencarian.

Firman dinyatakan meninggal dunia. Ia diketahui telah sekitar 10 tahun menjadi relawan BPK.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Banjarmasin, Hendro mengatakan relawan BPK swadaya sebenarnya rutin mendapat pembinaan mengenai teknik pemadaman dan keselamatan.

Pelatihan tersebut diberikan setiap tahun dengan melibatkan perwakilan organisasi BPK swadaya. Pengetahuan yang diperoleh kemudian diharapkan diteruskan kepada anggota lainnya.

Namun, saat kebakaran terjadi, dinas tidak dapat mengontrol seluruh tindakan relawan di lapangan. “Kami tidak bisa mengontrol seluruhnya, apalagi saat mereka bertugas di lapangan,” tutur Hendro.

Menurutnya, materi pelatihan tidak hanya mengenai SOP, tetapi juga teknik pemadaman yang mengacu pada standar keselamatan. Mulai penggunaan peralatan hingga teknik menghadapi api secara tepat dan aman.

Masalahnya, standar keselamatan terkadang terabaikan ketika relawan sudah berhadapan langsung dengan kobaran api.

Hendro menyebut semangat untuk segera memadamkan api atau fire fighter dapat membuat keselamatan pribadi ditempatkan di urutan berikutnya.

“Prinsip asal cepat padam, lalu memposisikan keselamatan pribadi itu jadi nomor ke sekian,” katanya.

Padahal, keselamatan selalu ditekankan dalam setiap pelatihan maupun penyuluhan. Sebab, ketika relawan mengalami kecelakaan saat bertugas, risikonya tidak mudah dialihkan kepada pihak lain.

Hendro berharap peristiwa yang menimpa Firman menjadi pelajaran bagi seluruh relawan BPK swadaya. Ia mengaku masih menemukan relawan yang bertugas tanpa perlengkapan keselamatan memadai. Bahkan, ada yang turun ke lokasi kebakaran hanya menggunakan sandal. “Seragam dan atribut itu harus dipakai,” tegasnya.

Menurut Hendro, keberanian dan semangat relawan dalam membantu memadamkan kebakaran patut diapresiasi. Namun, keberanian tersebut harus diimbangi kemampuan membaca dan memperhitungkan risiko. “Menangani kebakaran ini taruhannya nyawa. Sedangkan posisi dinas bersama mereka hanya rekan yang saling membantu,” ungkapnya.

Karena itu, ia kembali mengingatkan prinsip utama dalam setiap penanganan kebakaran. “Utamakan keselamatan sebelum menyelamatkan. Kalau petugas tidak selamat, siapa lagi yang menyelamatkan?” pungkasnya.(van/az/dye)

Editor : Arief M
tewas tenggelam komplek DPR Sungai Jafry Zamzam banjarmasin relawan pemadam kebakaran