RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Ancaman kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Balangan semakin mengkhawatirkan. Bukannya membaik, kualitas udara pada Minggu (6/9/2026) pagi justru kembali terjun bebas ke level sangat berbahaya dengan mencatatkan konsentrasi partikulat tertinggi sepanjang musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan rilis pemantauan terbaru dari Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, konsentrasi polutan di Bumi Sanggam terpantau sangat fluktuatif sejak tengah malam hingga pukul 09.00 Wita. Puncak perburukan kualitas udara terjadi pada rentang waktu pukul 08.00 hingga 09.00 Wita, di mana polusi menyentuh kategori berbahaya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Balangan, H Rahmi membeberkan bahwa angka konsentrasi partikulat ini sangat ekstrem dan jauh melampaui ambang batas toleransi pernapasan. Ia memastikan catatan hari ini memecahkan rekor polusi terburuk yang sempat terjadi pada pertengahan pekan lalu.
"Kategori berbahaya memuncak dengan konsentrasi tertinggi mencapai 880,7 mikrogram per meter kubik tepat pada pukul 08.00 Wita. Angka ini merupakan peringatan darurat bagi seluruh masyarakat," ungkap Rahmi.
Menghadapi udara yang kian beracun tersebut, Rahmi mendesak warga untuk mengambil langkah proteksi ekstra secara mandiri. Ia meminta masyarakat di seluruh wilayah Balangan benar-benar membatasi segala bentuk aktivitas di luar ruangan agar tidak menghirup langsung partikel asap sisa pembakaran.
"Kami menghimbau dengan sangat agar warga menggunakan masker medis berstandar perlindungan tinggi seperti N95 atau KN95 saat terpaksa keluar rumah. Jaga imunitas tubuh dengan pola hidup sehat, dan yang terpenting adalah hentikan segala aktivitas pembakaran lahan yang menjadi biang keladi bencana ini," tegasnya.
Desakan penggunaan masker khusus dari otoritas kebencanaan ini sangat beralasan mengingat level partikulat 880,7 mikrogram tersebut jauh lebih pekat dibandingkan rekor sebelumnya yang berada di angka 794,5 mikrogram. Kondisi udara yang semakin tak terkendali ini menjadi ancaman nyata bagi krisis kesehatan massal, terlebih Dinas Kesehatan Balangan sebelumnya telah merilis data bahwa lebih dari sepuluh ribu warga telah jatuh sakit akibat infeksi saluran pernapasan di tengah kepungan asap.
Editor : Arif Subekti