RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sudah mencapai 201 kejadian sejak awal Juli hingga 5 September 2026.
Dari ratusan kejadian tersebut, luas lahan yang terdampak mencapai 487,7 hektare.
Data rekapitulasi BPBD HSS menunjukkan, kejadian paling banyak tercatat di Kecamatan Kandangan dengan 47 kejadian. Namun, jika dilihat dari luasan, Kecamatan Kalumpang menjadi wilayah dengan dampak paling besar, mencapai 104,5 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD HSS, Ika Aguspiannor Hidayatullah, mengatakan tingginya jumlah kejadian di sejumlah wilayah menjadi perhatian dalam penanganan karhutla.
"Kejadiannya cukup tersebar. Kandangan memang paling banyak dari sisi jumlah kejadian, sedangkan kalau luas terdampak paling besar berada di Kalumpang," ujar Ika Minggu (6/9/2026).
Dari total lahan yang terdampak, sekitar 210,30 hektare sudah tertangani. Artinya, masih terdapat luasan yang tidak tertangani sekitar 277,7 hektare.
Menurut Ika, luasan yang tidak tertangani tersebut disebabkan sejumlah kendala di lapangan, terutama akses menuju lokasi yang tidak bisa dijangkau dan tidak tersedianya sumber air.
"Tidak tertangani, dikarenakan akses tidak bisa dijangkau, dan tidak tersedianya sumber air," katanya.
Di Kalumpang, dari 104,5 hektare lahan terdampak, sekitar 39,02 hektare telah tertangani. Sementara di Kandangan, luasan terdampak mencapai 78,29 hektare dengan sekitar 36,17 hektare telah tertangani.
Ika menyebut kondisi tersebut membuat wilayah dengan kejadian berulang dan luasan terdampak besar menjadi perhatian utama BPBD.
"Wilayah yang kejadian dan luas terdampaknya tinggi tentu menjadi prioritas kami untuk pemantauan dan penanganan," katanya.
Berdasarkan rekapitulasi tersebut, rata-rata luasan lahan yang terbakar dalam setiap kejadian mencapai sekitar 2,43 hektare.
Ika mengatakan penanganan di lapangan dilakukan dengan melihat kondisi setiap kejadian. Terlebih, sebaran karhutla berada di sejumlah kecamatan dengan karakter dan luasan berbeda.
"Setiap kejadian kami lihat kondisinya di lapangan. Yang penting ketika ada laporan, segera dilakukan penanganan supaya tidak semakin meluas," tegasnya.
Selain penanganan di darat, BPBD HSS juga sempat melakukan water bombing untuk membantu pemadaman karhutla di wilayah Daha Barat. Upaya tersebut dilakukan karena kondisi di lapangan cukup sulit dijangkau.
"Beberapa waktu yang lewat juga sudah ada melakukan water bombing di Daha Barat dengan durasi pemadaman kurang lebih empat jam," pungkasnya.
Editor : Sutrisno