Karhutla di Tapin Tembus 560,69 Hektare, Sehari Bisa Terjadi Empat Kebakaran

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:28 WIB
PADAMKAN: Personel gabungan saat memadamkan karhutla beberapa titik di Tapin.
PADAMKAN: Personel gabungan saat memadamkan karhutla beberapa titik di Tapin.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, RANTAU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, semakin mengkhawatirkan. Dalam 19 hari pertama Agustus 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 560,69 hektare.

Data kebencanaan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan mencatat, sepanjang 1 hingga 19 Agustus 2026 terdapat 129 kejadian karhutla di Kabupaten Tapin. Pada periode yang sama, jumlah titik panas atau hotspot mencapai 2.899 titik.

Karhutla pun belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kepala Pelaksana BPBD Tapin, Muhammad Nor, mengatakan kebakaran masih terjadi hampir setiap hari.

"Kalau dari awal Agustus sampai sekarang, setiap hari ada dua sampai empat kali kejadian karhutla," ujarnya, Minggu (23/8/2026).

Personel Terbatas, Relawan Jadi Andalan

Tingginya frekuensi kebakaran membuat penanganan di lapangan menjadi tantangan tersendiri. Salah satu kendala utama yang dihadapi BPBD Tapin adalah keterbatasan personel.

Meski demikian, petugas mendapat dukungan dari relawan di sejumlah wilayah. Mereka ikut turun ke lapangan membantu melakukan pemadaman ketika kebakaran terjadi.

"Untuk personel BPBD memang masih kurang. Alhamdulillah, ada relawan setempat yang membantu penanganan di lapangan," kata Muhammad Nor.

Keterlibatan relawan menjadi penting mengingat kebakaran dapat muncul di beberapa lokasi dalam waktu yang berdekatan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan personel untuk penanganan di lapangan semakin besar.

Jauh dari Sumber Air, Pemadaman Makin Berat

Bukan hanya persoalan personel. Ketersediaan sumber daya air juga menjadi kendala dalam pemadaman karhutla.

Kesulitan terutama terjadi ketika titik kebakaran berada jauh dari sumber air. Petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan pengisian ulang tangki sehingga proses pemadaman tidak bisa berlangsung secepat ketika sumber air berada di dekat lokasi.

"Kendala lainnya adalah ketersediaan sumber daya air, terutama kalau lokasi karhutla jauh dari sumber air," jelas Muhammad Nor.

Situasi ini membuat penanganan karhutla membutuhkan strategi dan dukungan dari berbagai pihak agar api tidak cepat meluas.

Petugas Minta Masyarakat Beri Ruang untuk Pemadaman

Persoalan lain yang ditemui petugas adalah masih adanya masyarakat yang melakukan pemadaman sendiri saat api muncul.

Menurut Muhammad Nor, kondisi tersebut terkadang justru menyulitkan petugas gabungan ketika tiba di lokasi dan hendak melakukan penanganan.

"Memang di lapangan ada masyarakat yang memadamkan dengan sengaja. Ketika kami ingin melakukan pemadaman, mereka tidak mau," ungkapnya.

Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama antara masyarakat, relawan, BPBD, serta petugas gabungan. Masyarakat diharapkan tidak hanya membantu ketika terjadi kebakaran, tetapi juga memberikan ruang kepada petugas agar proses pemadaman dapat dilakukan secara maksimal.

Laporkan Titik Api Sedini Mungkin

BPBD Tapin mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan titik api. Kecepatan informasi dinilai sangat penting untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Dengan luas lahan terbakar yang sudah mencapai lebih dari 560 hektare dan ratusan kejadian dalam waktu kurang dari tiga pekan, setiap titik api menjadi ancaman yang tidak boleh dianggap sepele.

Pencegahan juga harus menjadi perhatian utama. Masyarakat diminta tidak membuka ataupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Terlebih, kondisi kemarau membuat lahan dan vegetasi lebih mudah terbakar. Sedikit saja api tidak terkendali, kebakaran dapat dengan cepat meluas dan menyulitkan petugas untuk mengatasinya.

Editor : Eddy Hardiyanto
karhutla hektare Tapin