Kabut Asap Mengancam, Dinkes Tapin Pantau Kasus ISPA

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:37 WIB
BERI KETERANGAN: Plt Kepala Dinas Kesehatan Tapin, Iskandar Kurniawan memberikan keterangan terkait kasus ISPA.
Foto Rasidi Fadli 
BERI KETERANGAN: Plt Kepala Dinas Kesehatan Tapin, Iskandar Kurniawan memberikan keterangan terkait kasus ISPA. Foto Rasidi Fadli 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin mulai meningkatkan kewaspadaan menyusul meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi memicu kabut asap dan menurunkan kualitas udara.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Tapin, Iskandar Kurniawan mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat kabut asap.

“Potensi sebaran asap di Kabupaten Tapin berada pada status siaga dengan meningkatnya kebakaran lahan dan tentunya akan berakibat kualitas udara juga kurang baik,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).

Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Tapin telah menyiapkan surat imbauan kepada masyarakat. Edukasi mengenai dampak kabut asap terhadap kesehatan juga akan terus disampaikan, baik melalui media sosial maupun media cetak.

Tak hanya itu, fasilitas pelayanan kesehatan juga dipersiapkan. Puskesmas dan rumah sakit diminta siap memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak, termasuk dengan menyiapkan obat-obatan yang diperlukan.

“Layanan kesehatan puskesmas dan rumah sakit beserta obat juga kami siapkan untuk pelayanan masyarakat terdampak,” katanya.

Dinkes Tapin juga menyiapkan masker untuk masyarakat. Masker tersebut nantinya akan dibagikan apabila kondisi kabut asap semakin parah.

Langkah antisipasi ini dilakukan karena paparan asap dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain itu, asap juga dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit serta meningkatkan risiko gangguan akibat paparan gas karbon monoksida (CO).

Kelompok masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih di antaranya balita, lanjut usia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.

Sementara itu, data Dinkes Tapin menunjukkan kasus ISPA masih ditemukan setiap bulan sepanjang 2026. Pada Januari tercatat 2.492 kasus, kemudian Februari 1.648 kasus.

Kasus kembali tercatat 1.345 pada Maret, 1.300 pada April dan 1.193 pada Mei. Selanjutnya Juni sebanyak 1.279 kasus dan pada Juli meningkat menjadi 1.412 kasus.

Iskandar mengatakan, masyarakat diimbau tidak menganggap remeh kondisi udara ketika kabut asap mulai muncul.

Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kondisi udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker.

“Edukasi kepada masyarakat terus kami lakukan terkait dampak kesehatan dan bagaimana mencegahnya. Termasuk melalui media sosial dan media cetak,” jelasnya.

Dinkes Tapin juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan seperti sesak napas, mata perih, pusing berat maupun nyeri dada.

Menurut Iskandar, upaya penanganan dampak karhutla tidak bisa hanya dilakukan dari sisi pemadaman. Pencegahan dan perlindungan kesehatan masyarakat juga menjadi bagian penting yang harus disiapkan sejak dini.

“Kami siap berkolaborasi dengan instansi terkait dalam meminimalkan dampak kesehatan akibat karhutla, termasuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak asap,” pungkasnya.

Editor : Arif Subekti
kewaspadaan dinas kesehatan kabupaten tapin karhutla Kabut Asap Kebakaran Hutan