Karhutla Berulang Kali Terjadi di Tambang Ulang, Banyak Lahan Disebut Milik Warga Luar Daerah

Norsalim Yahya • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 15:55 WIB
BAHU-MEMBAHU : Petugas dari BPBD dan tim gabungan melakukan pemadaman lahan yang terbakar di wilayah Desa Kayu Abang dan Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang, Kamis (13/8/2026) sore. (Foto : Angga untuk Radar Banjarmasin)
BAHU-MEMBAHU : Petugas dari BPBD dan tim gabungan melakukan pemadaman lahan yang terbakar di wilayah Desa Kayu Abang dan Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang, Kamis (13/8/2026) sore. (Foto : Angga untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Pelaihari - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Tanah Laut (Tala). Kali ini api kembali muncul di kawasan Desa Kayu Abang, Kecamatan Tambang Ulang, Kamis (13/8/2026).

Kebakaran pertama kali terpantau sekitar pukul 16.00 Wita. Saat itu, dari balik vegetasi terlihat kepulan asap putih hingga kelabu. Sekitar dua jam kemudian, kobaran api mulai terlihat dan membakar area lahan.

Kondisi tersebut langsung ditindaklanjuti aparat kepolisian. Personel Polsek Tambang Ulang mendatangi lokasi setelah menerima informasi dari masyarakat untuk memastikan titik api dan mencegah kebakaran meluas ke kawasan sekitar.

Kapolsek Tambang Ulang Iptu Mangasa Siagian mengatakan, setiap laporan mengenai hotspot langsung ditindaklanjuti.

“Kami setiap ada informasi adanya kebakaran hutan dan lahan langsung bergerak secepatnya untuk memastikan titik-titik hotspotnya, karena kami juga memastikan apakah berdampak ke permukiman sekitar atau tidak,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Kebakaran di kawasan tersebut disebut bukan kali pertama terjadi. Kepala Desa Gunung Raja Samsiar mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir api beberapa kali muncul di lokasi yang sama.

“Yang jelas api itu tiba-tiba muncul dan disini sudah seperti langganan,” katanya.

Pemerintah desa, lanjut Samsiar, telah melakukan berbagai upaya pencegahan. Di antaranya memasang baliho imbauan, memberikan teguran serta melakukan sosialisasi bersama BPBD, kepolisian dan pihak terkait.

Namun, pengawasan terhadap lahan menjadi tantangan karena sebagian pemilik lahan berada di luar daerah, bahkan luar Pulau Kalimantan.

“Kalau pemilik lahan ini rata-rata orang luar daerah. Ada yang dari Martapura, Banjar, bahkan dari luar pulau seperti Jakarta dan Jawa,” ujarnya.

Memasuki puncak musim kemarau pada Agustus-September, Samsiar mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran untuk membuka maupun membersihkan lahan. Warga juga diminta tidak membakar sampah sembarangan dan tidak membuang puntung rokok di area yang mudah terbakar.

Sementara itu, penyebab kebakaran masih didalami kepolisian. Iptu Mangasa mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah api berasal dari aktivitas manusia atau faktor lainnya.

“Kami masih mendalami apakah ini akibat perbuatan orang atau karena gesekan, misalnya daun dengan daun atau kayu dengan kayu. Itu nanti kami pastikan dulu,” jelasnya.

Penanganan kebakaran dilakukan bersama BPBD. Sekitar pukul 18.40 WITA, petugas tiba di lokasi dan langsung melakukan pemadaman dengan menyemprotkan air ke titik api.

Polisi juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak sengaja membakar hutan maupun lahan. Selain berpotensi meluas, karhutla dapat menghasilkan asap yang mengganggu kesehatan dan mengurangi jarak pandang pengguna jalan.

“Api sangat rawan meluas, kemudian asapnya banyak mengganggu, terutama pernapasan dan perjalanan karena jarak pandang kita menjadi terbatas. Jangan sampai asap mencapai permukiman penduduk,” pungkasnya. 

Editor : Sutrisno
karhutla Tala