Akibat Karhutla di balangan, Seluas 29,5 Hektare Lahan Terbakar

M Dirga • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:44 WIB
Petugas memadamkan kebakaran lahan. Balangan resmi menetapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan menyusul belasan titik api yang mulai muncul. (M Dirga/ Radar Banjarmasin)
Petugas memadamkan kebakaran lahan. Balangan resmi menetapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan menyusul belasan titik api yang mulai muncul. (M Dirga/ Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Musim kemarau mulai memicu kebakaran lahan dan ancaman krisis air bersih di Kabupaten Balangan. Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Balangan resmi menetapkan status siaga darurat mulai 12 Agustus hingga 30 Oktober 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Balangan,  Rahmi menjelaskan bahwa penetapan status ini didasari oleh munculnya belasan titik api di lapangan. Puluhan hektare lahan dilaporkan sudah hangus terbakar.

"Per hari ini, tercatat ada 17 kejadian karhutla dengan wilayah yang terbakar sekitar 29,5 hektare. Kebakaran ini tersebar di seluruh kecamatan, terbanyak di Lampihong karena ada lahan gambut yang berbatasan dengan HSU," ungkap Rahmi usai menggelar rapat koordinasi (rakor) di Aula Benteng Tundakan, Rabu (12/8) siang.

Meski lahan yang terbakar mulai meluas, Rahmi menyebutkan pihaknya belum berencana meminta bantuan pemadaman dari udara. Keputusan tersebut baru akan diambil jika kondisi di lapangan memang benar-benar mendesak.

"Untuk water bombing dan modifikasi cuaca, kita masih melihat situasi. Karena ini memerlukan prosedur ketat. Jika memang terpaksa, maka kita akan segera berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan BNPB," tambahnya.

Selain urusan pemadaman api, BPBD juga fokus pada ketersediaan air bersih bagi warga. Rahmi mengakui debit air di wilayah hulu sungai mulai menunjukkan tanda-tanda penyusutan yang cukup signifikan.

"Terkait potensi kekeringan, memang kita menyadari di daerah hulu debit air mulai menipis. Sungai kita mulai dangkal. Kami juga berkoordinasi dengan PDAM dengan melakukan bendung-bendung sungai untuk ketersediaan air bersih," urainya.

Langkah cepat BPBD dalam menetapkan status siaga ini sejalan dengan prakiraan cuaca dari otoritas terkait. BMKG memprediksi musim kemarau di wilayah Balangan tahun ini akan berlangsung lebih kering dan panjang.

Kepala Stasiun Klimatologi sekaligus Koordinator BMKG Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik memastikan seluruh wilayah Balangan sudah memasuki musim kemarau. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada bulan depan.

"Secara umum semua wilayah di Kabupaten Balangan memasuki kemarau, dan akan mengalami puncak di bulan September dengan durasi sekitar 16 sampai 18 dasarian," paparnya.

Ia menambahkan, dampak kemarau bahkan bisa terasa hingga tahun depan akibat pengaruh El Nino. Kondisi tersebut juga akan menekan intensitas hujan yang seharusnya turun di masa awal pergantian musim nanti.

"Kita perkirakan kemarau ini sampai Oktober, bahkan untuk El Nino bisa sampai menyeberang ke awal tahun 2027. Kemungkinan musim hujan kita juga akan terpengaruh, sehingga curah hujan kita sedikit di awal musim nanti," jelasnya.

Pihak BMKG sengaja mengeluarkan peringatan ini sejak awal agar pemerintah daerah tidak terlambat mengambil langkah pencegahan. "Dari awal kita sampaikan bahwa kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Kami berupaya memberikan informasi lebih awal sehingga pemerintah daerah bisa mengambil langkah antisipasi dini dan pencegahan," tutupnya.

 

Editor : M Oscar Fraby
karhutla BPBD Balangan