Kebakaran TPA Basirih Jadi Alarm, KLH Sudah Ingatkan Ancaman Sejak Juli

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:54 WIB
SEMPROT: Kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Basirih, Banjarmasin, terbakar pada Senin (10/8/2026).
SEMPROT: Kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Basirih, Banjarmasin, terbakar pada Senin (10/8/2026).

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Kebakaran yang melanda kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Basirih, Banjarmasin, Senin (10/8/2026), menjadi alarm serius di tengah meningkatnya risiko kebakaran TPA akibat kondisi iklim ekstrem.

Pasalnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah mengingatkan pemerintah daerah mengenai potensi tersebut sejak awal Juli 2026.

Peringatan disampaikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono saat meninjau kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, pada 4 Juli 2026.

Saat itu, Diaz meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran TPA di berbagai daerah.

“Pak Menteri Jumhur sudah mengeluarkan surat edaran kepada kepala daerah untuk mengantisipasi,” tegas Diaz, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Radar Banjarmasin pada 5 Juli 2026.

Waspada Efek El Nino

Peringatan tersebut bukan tanpa alasan.

Diaz menyebut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga telah memberikan peringatan mengenai kondisi El Nino yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.

“Artinya kita harus antisipasi akan ada potensi kebakaran lain di TPA di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sebulan kemudian, peringatan tersebut menjadi relevan dengan kondisi di Banjarmasin.

Kawasan TPA Basirih terbakar pada Senin siang. Berdasarkan laporan BPBD Kota Banjarmasin, api muncul di Jalan Gubernur Subarjo, Kelurahan Basirih Selatan, Kecamatan Banjarmasin Selatan.

Area terdampak diperkirakan mencapai 0,95 hektare. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra memastikan kebakaran telah berhasil diatasi.

“Kawasan TPA Basirih mengalami kebakaran tetapi sudah berhasil diatasi,” kata Ronny saat menghadiri rapat koordinasi karhutla di Markas Polda Kalsel, Banjarbaru, Senin (10/8).

Kebakaran terjadi sekitar pukul 11.40 Wita dan berhasil dipadamkan sekitar pukul 13.30 Wita. Sebanyak 15 unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani api.

Anggota TRC BPBD Kota Banjarmasin Andy Putera mengatakan api awalnya membakar semak belukar di sekitar TPA sebelum merembet ke timbunan sampah.

“Yang terbakar hanya lahan atau semak belukar. Tidak merambah sampai ke area persawahan, perkebunan hingga kawasan permukiman,” jelasnya.

Api Bisa Tersembunyi di Bawah Timbunan Sampah

Meski api telah dipadamkan, kebakaran TPA memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran lahan biasa.

KLH sebelumnya mengingatkan bahwa kebakaran di TPA dapat sulit ditangani karena api tidak selalu terlihat di permukaan. Bagian bawah timbunan sampah masih dapat menyimpan bara meski permukaan terlihat sudah padam.

Karakter tersebut disebut memiliki kemiripan dengan kebakaran lahan gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul setelah sebelumnya dianggap berhasil dipadamkan.

Risiko lain yang menjadi perhatian adalah munculnya gas metana atau CH4 dari timbunan sampah. Gas tersebut dapat menimbulkan risiko ledakan apabila tidak ditangani dengan tepat.

Karena itu, KLH menempatkan keselamatan masyarakat di sekitar TPA, pekerja, maupun pemulung sebagai prioritas.

“Keselamatan itu prioritas dari KLH juga,” tegas Diaz.

Kondisi tersebut membuat langkah antisipasi pascakebakaran menjadi penting. Di TPA Basirih, UPTD TPAS Basirih bersama petugas pemadam kebakaran melakukan piket penjagaan malam untuk mengantisipasi munculnya kembali api.

Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah sembarangan dan meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.

Titik Api Banjarmasin Terus Bertambah

Kebakaran TPA Basirih terjadi ketika aktivitas kebakaran lahan di Banjarmasin juga menunjukkan peningkatan.

Data terbaru BPBD Kota Banjarmasin mencatat jumlah titik api bertambah dari sebelumnya 26 menjadi 31 titik.

Luas lahan yang terbakar juga meningkat, dari 2,30 hektare menjadi 5,11 hektare.

Banjarmasin Selatan menjadi salah satu wilayah yang terpantau cukup terdampak kabut asap. Sejumlah kelurahan yang dilaporkan terdampak antara lain Tanjung Pagar, Pemurus Dalam, Basirih Selatan, Kelayan Timur, dan Pekauman.

Bukan Sekadar Memadamkan Api

Pengalaman penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin juga menunjukkan bahwa persoalan kebakaran di lokasi pembuangan sampah tidak berhenti pada pemadaman.

Saat menangani kebakaran di Jatiwaringin, KLH turut melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar lokasi. Sejumlah parameter yang dipantau antara lain sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), PM10, dan PM2.5.

Langkah tersebut menegaskan bahwa kebakaran TPA memiliki dampak yang lebih luas. Selain ancaman api dan potensi ledakan gas, kualitas udara serta keselamatan masyarakat di sekitar lokasi juga menjadi persoalan yang harus diantisipasi.

Kini, setelah TPA Basirih terbakar, peringatan pemerintah pusat mengenai ancaman kebakaran TPA kembali menjadi perhatian.

Terlebih, peningkatan titik api dan luas lahan terbakar di Banjarmasin menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum mereda.

Editor : Eddy Hardiyanto
klh Kebakaran TPA Basirih