RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TANJUNG - SPBU Kambitin di Desa Kambitin, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong tidak lagi membiarkan pengendara kendaraan bermotor berebut antrean saat ingin membeli pertalite.
Rebutan antrean yang disebut bak balapan MotoGP itu kini lebih kondusif dan tertib. Pasalnya pengelola SPBU menerapkan penjagaan ketat, serta hanya memperkenankan sistem antrean dua lajur di awal buka.
Setelah penumpukan terurai, mereka membagi antrean menjadi empat baris dengan menggunakan dua lajur di satu mesin pompa Pertalite.
Pengawas SPBU Kambitin, Setyono mengaku rebutan antrean yang terjadi sebelumnya sempat viral di media sosial karena video milik seorang warga. "Ya kaya orang balapan MotoGP," ujarnya, Minggu (9/8/2026).
Setelah peristiwa itu, SPBU melakukan penertiban. Bahkan, kehadiran aparat satuan keamanan, polisi, tentara, Dishub dan Satpol PP juga membantu. "Sekarang sudah kondusif," jelasnya.
Pembelian pertalite di SPBU Kambitin melayani pengendara kendaraan bermotor sejak pukul 06.00-10.00 Wita, lalu istirahat dan buka kembali pukul 13.00-18.00 Wita.
Padatnya pembelian Pertalite tidak menentu di jam berapa. Secara kebiasaan, paling banyak di jam berangkat kerja dan sekolah, sekitar pukul 06.00 sampai pukul 07.00 Wita.
Untuk pasokan Pertalite dari Pertamina, menurutnya lancar saja. Setiap hari biasa dikirimi 8 ribu liter hingga 16 ribu liter. "Kalo 8 ribu liter, itu habis sehari. Paling tidak jam 14.00 Wita sudah habis," terangnya.
Bagaimana dengan pembeli pelangsir? Ditanya hal itu, Setyono mengaku sudah tidak ada lagi. Karena berdasarkan ketentuan hasil rapat bersama Pemkab Tabalong.
Rapat itu juga menegaskan pembelian pertalite untuk sepeda motor dibatasi 7 liter dan mobil 20 liter.
"Memang masih ada yang nakal untuk sepeda motor, karena mereka bisa beli berulang kali. Padahal, kalau kami tahu, akan kami larang," ucapnya.
Sementara, pengisian pertalite untuk mobil wajib menggunkan barcode. Sehingga, mobil mendapat jatah mengisi Pertalite hanya sekali dalam sehari.
Setyono berharap Pemerintah dapat mengembalikan harga pertamax ke harga semula, yakni Rp12 ribuan per liter.
Menurutnya, masalah antrean pertalite ini disebabkan jarak harga pertalite dan pertamax terlalu jauh. "Kalau bisa harga Pertamax diturunkan. Kalau bisa disubsidi saja," ujarnya.
Aujiah Rahman, pengendara sepeda motor yang mengantre di SPBU Kambitin mengaku 30 menit baru mendapatkan Pertalite. "Lumayan lama, setengah jam," ujarnya.
Ia berharap Pemerintah bisa menambah kuota pertalite untuk memecah antrean yang dinilai masih terlalu lama.
Editor : Arif Subekti