Pelajaran Tragedi Mahasiswa KKN Kecelakaan, Akademisi ULM Desak Pemerintah Benahi Jalur Maut Batulicin–Banjarbaru

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 13:39 WIB
JALUR RAWAN: Kondisi Jalan Alternatif Batulicin–Banjarbaru di Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, yang memiliki kontur tanjakan, turunan, dan tikungan.
JALUR RAWAN: Kondisi Jalan Alternatif Batulicin–Banjarbaru di Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, yang memiliki kontur tanjakan, turunan, dan tikungan.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Rangkaian kecelakaan di Jalan Alternatif Batulicin–Banjarbaru kembali memakan korban jiwa. Dalam sepekan terakhir, sedikitnya delapan orang meninggal dunia dalam tiga kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tersebut.

Tragedi paling fatal terjadi di Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, Sabtu (1/8/2026). Tabrakan antara mobil tangki dan mobil pikap menewaskan tujuh orang, termasuk lima mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Sebelumnya, pada Selasa (28/7), sebuah Mitsubishi Triton diduga hilang kendali hingga bertabrakan dengan Honda Brio. Insiden itu menyebabkan satu orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka berat.

Sehari kemudian, kecelakaan beruntun yang melibatkan mobil pikap, Toyota Avanza, dan Toyota Raize kembali terjadi di ruas yang sama. Satu orang dilaporkan mengalami luka berat.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Akbar Rahman, menilai kecelakaan yang terus berulang tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kesalahan pengemudi. Menurutnya, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan jalan, termasuk kondisi infrastruktur.

"Kalau kecelakaan berat terus berulang di koridor yang sama, evaluasinya tidak boleh berhenti pada faktor manusia. Infrastruktur jalan dan sistem keselamatan juga harus ditinjau," ujar dosen Fakultas Teknik ULM tersebut.

Akbar menjelaskan, Jalan Alternatif Banjarbaru–Batulicin memiliki karakteristik berupa tanjakan, turunan, dan tikungan yang berdekatan. Pada sejumlah titik, jarak pandang pengemudi juga terbatas setelah melewati puncak tanjakan sehingga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara yang belum mengenal medan.

Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya dapat diminimalkan melalui penerapan konsep forgiving road, yakni desain jalan yang mampu mengurangi dampak fatal ketika pengemudi melakukan kesalahan.

Penerapannya dapat dilakukan dengan penyempurnaan geometri jalan, pemasangan rambu yang lebih informatif, marka jalan berdaya pantul tinggi, guardrail di titik rawan, delineator reflektif, rumble strip sebelum tikungan atau turunan, hingga pengendalian kecepatan yang lebih efektif.

Akbar juga mendesak pemerintah segera melaksanakan Road Safety Audit (RSA) atau audit keselamatan jalan di sepanjang ruas Jalan Alternatif Banjarbaru–Batulicin.

Menurutnya, audit tersebut penting untuk mengidentifikasi berbagai potensi bahaya sehingga langkah perbaikan dapat dilakukan sebelum kembali menelan korban jiwa.

"Audit perlu mencakup geometri jalan, jarak pandang henti, kondisi perkerasan, kelengkapan fasilitas keselamatan, hingga pola lalu lintas kendaraan berat yang setiap hari melintasi jalur ini," katanya.

Selain pembenahan infrastruktur, Akbar menegaskan pentingnya membangun budaya keselamatan berkendara. Pengemudi diimbau tidak memacu kendaraan di jalur dengan kontur bergelombang, tetap menjaga konsentrasi, dan mematuhi batas kecepatan selama perjalanan.

Editor : Eddy Hardiyanto
mahasiswa KKN kecelakaan Akademisi ULM Batulicin-Banjarbaru