RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Warga Desa Cantung Kanan, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru, mendadak gempar Selasa (28/7).
Seekor buaya liar berukuran sekitar tiga meter mendadak muncul dan menampakkan diri di hulu Jembatan Beton Malangkaian.
Kemunculan predator ganas ini langsung memicu ketakutan mendalam di kalangan masyarakat setempat.
Bukan tanpa alasan, Sungai Malangkaian merupakan nadi utama aktivitas harian warga.
Terlebih lagi, bayang-bayang trauma masih membentang di Kotabaru mengingat dalam beberapa bulan belakangan, konflik antara manusia dan buaya di dibeberapa tempat sempat menelan korban jiwa akibat diterkam predator sungai.
Menanggapi ancaman yang mengintai keselamatan warga, para pemuda Desa Cantung Kanan bersama personel Polsek Hampang bergerak cepat.
Mereka melakukan pemantauan ketat sekaligus menutup akses di sekitar lokasi guna mengisolasi pergerakan reptil berbahaya tersebut.
Aksi penangkapan yang berlangsung penuh ketegangan itu akhirnya membuahkan hasil pada Selasa malam, sekitar pukul 23.00 WITA.
Warga setempat, Sahrianto, Rabu (29/7) menceritakan detik-detik penangkapan sang penguasa sungai tersebut.
"Awalnya kelihatan di sungai hulu Jembatan Beton Melangkaian hari Selasa. Lalu malamnya berhasil ditangkap warga dengan cara disetrum sampai lumpuh, baru kemudian diikat. Katanya mau diantar ke penangkaran di Tanah Bumbu," tutur Sahrianto.
Saat dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Hampang, IPDA Feliks Lewi Hariandja, Rabu (29/7) malam membenarkan aksi penangkapan predator sepanjang tiga meter tersebut.
Ia memastikan saat ini buaya tersebut telah diamankan di Mapolsek Hampang demi menjamin keamanan dan keselamatan warga.
"Benar, saat ini buayanya sudah diamankan di Mapolsek. Kami telah berkoordinasi dengan pihak BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) untuk proses penanganan dan evakuasi selanjutnya. Perkembangan lebih lanjut nanti akan kami infokan," tutup IPDA Feliks.
Sampai saat ini Kamis (30/7) siang berita ini diterbitkan belum ada kepastian, Buaya yang telah ditangkap ini dibawa kemana.
Editor : Arif Subekti