Pengorbanan Rizky Selamatkan Adik Saat Rumah Ambruk, Ibunda Ungkap Detik-Detik Tragis

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 01:32 WIB

TAKZIAH: Tangis Sulistia Rahmawati pecah saat jenazah putra sulungnya, Muhammad Ibnu Rizky, dimakamkan. Rizky meninggal dalam tragedi rumah ambruk setelah berjuang menyelamatkan dua adiknya yang masih balita. (Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)
TAKZIAH: Tangis Sulistia Rahmawati pecah saat jenazah putra sulungnya, Muhammad Ibnu Rizky, dimakamkan. Rizky meninggal dalam tragedi rumah ambruk setelah berjuang menyelamatkan dua adiknya yang masih balita. (Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Pengorbanan Muhammad Ibnu Rizky (19) menjadi kisah paling menyayat dalam tragedi ambruknya tiga unit rumah di Komplek Fadillah Perdana 5, Desa Tatah Belayung Baru, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Sabtu (25/7/2026). Mahasiswa itu meninggal dunia setelah lebih dulu berjuang menyelamatkan dua adiknya yang masih balita saat bangunan tempat tinggal mereka roboh.

 

Rizky menjadi satu-satunya korban meninggal dunia dalam musibah tersebut. Jenazahnya dimakamkan pada Sabtu malam di kawasan Jalan Pemajatan, Kecamatan Gambut, diiringi tangis keluarga, kerabat, serta rekan kuliah dan alumni SMAN 7 Banjarmasin.

Rizky Dahulukan Keselamatan Adik

Tangis Sulistia Rahmawati pecah saat keranda jenazah putra sulungnya dibuka sesaat sebelum dimakamkan. Di tengah duka mendalam, ia menceritakan detik-detik terakhir perjuangan anaknya.

Saat rumah hendak ambruk, Rizky sedang menggantikan ibunya memandikan dua adiknya yang masih balita di kamar mandi. Sementara Sulistia bersama empat anak lainnya berada di dalam kamar.

Baca Juga: Tiga Rumah di Komplek Fadillah Perdana 5 Kertak Hanyar Ambruk Sekaligus, Seorang Perempuan dan Lima Anak jadi Korban Tertimpa Reruntuhan

Bangunan roboh dalam hitungan detik. Bagian kamar mandi menjadi titik yang paling sulit dievakuasi karena langsung tertimbun reruntuhan.

Meski terjepit, Rizky masih sempat mengutamakan keselamatan adiknya.

"Mereka berdua sempat tenggelam sambil berusaha bangkit. Posisinya, Rizky terjepit reruntuhan dan hanya bisa menyodorkan adiknya menggunakan kaki agar bisa kami jangkau," ujar Sulistia.

Satu balita berhasil diselamatkan lebih dahulu. Sementara Rizky bersama seorang adiknya sempat terjebak di antara reruntuhan rumah yang berdiri di atas lahan rawa.

Dievakuasi Paling Akhir

Sulistia mengaku telah berusaha menarik tubuh anaknya. Namun reruntuhan bangunan membuat upaya itu tidak berhasil hingga relawan datang.

Rizky akhirnya menjadi korban terakhir yang berhasil dievakuasi. Saat ditemukan, kondisinya sudah sangat lemah.

"Padahal saya sudah berusaha menariknya, tapi tidak bisa sampai datang bantuan. Saat dibawa menuju ambulans dia sempat menoleh ke saya. Tapi saat di perjalanan sepertinya sudah hilang," tutur Sulistia.

Menurut keluarga, hasil visum menunjukkan Rizky mengalami keretakan pada bagian kepala serta luka akibat tubuhnya sempat terjepit reruntuhan.

"Kepala hingga punggungnya sempat terjepit. Makanya hanya bisa menggunakan kaki untuk menyelamatkan adiknya," kata Ibnu, paman korban.

Rumah Disebut Lama Bergetar

Sulistia mengungkapkan keluarganya telah sekitar setahun menempati rumah tersebut melalui sistem over kredit.

Selama tinggal di sana, ia mengaku kerap merasakan getaran ketika kendaraan melintas, terutama truk.

"Yang kecil saja sudah terasa getar, apalagi bila truk yang lewat," ujarnya.

Ia juga menyebut beberapa bagian lantai rumah terasa kopong dan beberapa kali diperbaiki secara tambal sulam.

"Itu lantai juga sempat diperbaiki beberapa kali," tambah Ibnu.

Satu Anak Masih Kritis

Selain kehilangan putra sulungnya, Sulistia masih harus mendampingi salah seorang anaknya yang hingga kini menjalani perawatan intensif di RSUD Ulin Banjarmasin dalam kondisi koma. Sementara anggota keluarga lainnya mengalami berbagai cedera.

Suasana pemakaman Rizky dipenuhi pelayat. Iring-iringan ambulans Masjid Al Jihad diikuti keluarga, kerabat, teman kuliah, hingga alumni SMAN 7 Banjarmasin.

Menurut sang nenek, Lastri, Rizky dikenal sebagai sosok pekerja keras. Selain kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin, ia juga bekerja sebagai pengemudi ojek online untuk membantu perekonomian keluarga.

"Dia kerja buat bantu-bantu. Sebelum kejadian, dia cukup sering mengunjungi saya, padahal sebelumnya jarang," ungkap Lastri.

Saksi Dengar Bunyi Retakan

Seorang saksi mata, Anisa, mengaku sempat mendengar suara retakan sebelum bangunan ambruk.

"Ada bunyi retak. Pas kami mengecek, posisinya sudah ambruk," katanya.

Ia menduga keruntuhan bermula dari salah satu rumah di bagian ujung sehingga tiga bangunan saling menimpa ke satu arah.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti ambruknya rumah masih dalam penyelidikan. Aparat juga belum merilis data lengkap jumlah korban maupun identitas seluruh korban terdampak. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
Muhammad Ibnu Rizky tragedi Kertak Hanyar korban rumah ambruk evakuasi rumah ambruk rumah ambruk Banjarmasin