Di Level Berbahaya! Udara di Banjarbaru Sempat Diselimuti Kabut Asap

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 09:08 WIB
KABUT ASAP: Kabut asap menyelimuti Jalan Ahmad Yani kawasan Landasan Ulin hingga Liang Anggang, Banjarbaru, Selasa (21/7) pagi. (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
KABUT ASAP: Kabut asap menyelimuti Jalan Ahmad Yani kawasan Landasan Ulin hingga Liang Anggang, Banjarbaru, Selasa (21/7) pagi. (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan mengenai potensi munculnya kembali kabut asap terbukti. Sejak Selasa (21/7) dini hari hingga pagi, kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Kota Banjarbaru, terutama Kecamatan Landasan Ulin hingga Liang Anggang.

Bersamaan dengan itu, kualitas udara juga mengalami penurunan. Berdasarkan data pemantauan BMKG, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) mencapai 46,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 Wita.

Data pemantauan kualitas udara BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 mulai meningkat sejak pagi hari. Pada pukul 06.00 Wita, konsentrasinya tercatat 34,5 mikrogram per meter kubik, kemudian berada di angka 28,7 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita.

Memasuki jam sibuk pagi, konsentrasi kembali meningkat menjadi 45,9 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 Wita dan mencapai puncaknya 46,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 Wita.

Setelah itu, kualitas udara mulai membaik dengan konsentrasi turun menjadi 15,3 mikrogram per meter kubik pada pukul 10.00 Wita. Peningkatan konsentrasi partikulat halus tersebut terjadi bersamaan dengan kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Banjarbaru pada pagi hari.

Sehari sebelumnya, kualitas udara di Banjarbaru bahkan sempat memburuk secara ekstrem. Data BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai sekitar 495 mikrogram per meter kubik pada Senin (20/7) sekitar pukul 08.00 Wita, atau masuk kategori berbahaya.

Namun, lonjakan tersebut hanya berlangsung sementara sebelum kembali menurun beberapa jam kemudian.

Meski aktivitas tetap berlangsung normal, sejumlah warga mengaku mulai khawatir apabila kabut asap terus berlanjut. Hayati, warga Kecamatan Landasan Ulin, mengatakan kabut asap sudah terlihat sejak ia berolahraga pagi di kawasan Liang Anggang sekitar pukul 06.00 Wita.

Ia mengaku, jarak pandang lebih pendek dibanding biasanya. Tak hanya itu aroma asap tercium menyengat. "Pas jogging tadi memang kelihatan berkabut. Matahari sudah terbit, tapi suasananya masih seperti tertutup asap. Mudah-mudahan tidak semakin parah seperti tahun-tahun sebelumnya," keluhnya.

Ia berharap kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar segera dapat dikendalikan agar kualitas udara kembali membaik. “Saya terpaksa mengurangi durasi olahraga di luar ruangan,” tuturnya.

Kondisi serupa juga dirasakan Sukma, warga Landasan Ulin yang pagi itu mengantar anaknya berangkat ke sekolah. Ia mengaku sempat khawatir karena kabut asap cukup terlihat di sepanjang perjalanan. "Anak-anak kan lebih rentan. Kalau kabut asap seperti ini terus, tentu kami sebagai orang tua jadi waswas. Semoga titik apinya cepat dipadamkan supaya udara kembali bersih," harapnya.

Sebelumnya, Forecaster Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, M. Agvi menjelaskan, kabut asap diduga berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar Banjarbaru. Berdasarkan laporan yang diterima BMKG, terdapat kebakaran lahan di Desa Keladan Baru, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar

Namun, menurutnya, kabut asap yang terlihat di Banjarbaru belum dapat dipastikan berasal dari satu lokasi kebakaran tertentu. Ia mengakui, bahwa karhutla memang sangat mungkin menjadi salah satu faktor penyebab kabut asap di wilayah Banjarbaru.

“Namun, untuk memastikan sumber dan jalur pergerakan asap secara spesifik diperlukan analisis lebih lanjut menggunakan data titik panas, citra satelit, arah angin, dan kondisi atmosfer,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kabut asap masih berpotensi masih akan terjadi. “Untuk lokasi dan tingkat keparahannya sangat bergantung pada keberadaan sumber asap, kondisi atmosfer, serta arah dan kecepatan angin," tutupnya. (zkr/mof)

Editor : Arief
Berita Banjarbaru Kabut Asap Polusi Udara bmkg