RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Luas karhutla di Kalsel terus merangkak naik, sudah menembus 377 hektare lebih hingga 19 Juli 2026. Menegaskan ancaman kebakaran hutan dan lahan di tengah musim kemarau di depan mata.
****
BANJARBARU – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus bertambah selama musim kemarau. Hingga Minggu (19/7), akumulasi lahan yang terbakar telah mencapai 377,03 hektare.
Angka tersebut dipastikan belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Pasalnya, kebakaran yang terjadi di kawasan Pengayuan, Kota Banjarbaru, masih berlangsung hingga malam hari.
Data BPBD Kalimantan Selatan menunjukkan, hingga 19 Juli 2026 telah terjadi 126 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 377,03 hektare. Dari luasan tersebut, 129,13 hektare di antaranya telah berhasil ditangani petugas.
Kebakaran di Pengayuan menjadi salah satu peristiwa terbesar yang terjadi. Sampai tadi malam (Minggu, 19/7), petugas gabungan masih melakukan pemadaman sehingga luasan lahan yang terbakar belum dapat dihitung dan belum masuk dalam akumulasi data.
Dari data BPBD Kalsel, sebaran luas lahan terbakar masih didominasi Kota Banjarbaru. Daerah ini mencatat 172,6 hektare lahan terbakar atau hampir separuh dari total luas karhutla di Kalimantan Selatan.
Kabupaten Banjar berada di posisi kedua dengan 121,9 hektare, disusul Tanah Laut 57,86 hektare, Barito Kuala 13,5 hektare, Hulu Sungai Selatan 4,68 hektare, Tapin 1,6 hektare, Kotabaru 1,5 hektare, Tanah Bumbu 1 hektare, Hulu Sungai Utara 0,8 hektare, Hulu Sungai Tengah 0,09 hektare, dan Kota Banjarmasin nihil luasan kebakaran.
Jika dibandingkan dengan jumlah kejadian, luas lahan yang terbakar menunjukkan bahwa sejumlah peristiwa berkembang menjadi kebakaran dengan areal cukup luas, terutama di kawasan lahan gambut dan semak belukar yang mengering akibat kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengatakan pemerintah provinsi terus meningkatkan berbagai langkah penanganan untuk menekan perluasan karhutla. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan sejak 15 Juli 2026.
Menurutnya, hujan yang turun di sejumlah wilayah seperti Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar pada 17–18 Juli merupakan hasil dari operasi tersebut. "Insya Allah hujan beberapa hari ini berkat OMC," ujarnya, Minggu (19/7).
Pelaksanaan OMC menggunakan pesawat Cessna Caravan 208B PK-SNP yang mampu membawa sekitar satu ton garam untuk setiap penerbangan. Penyemaian dilakukan satu hingga dua kali sehari menyesuaikan pertumbuhan awan di wilayah sasaran.
Hingga Minggu, sedikitnya tujuh ton garam telah disebarkan ke awan potensial untuk memicu hujan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan.
Selain OMC, penanganan karhutla juga diperkuat melalui dukungan armada udara yang disiagakan di Bandara Syamsudin Noor. Yakni, satu pesawat modifikasi cuaca PK-SNP, dua helikopter water bombing yakni PK-DAN dan RA-22834, serta satu helikopter patroli kebakaran PK-IWF.
Sempat Picu Ketegangan, Karhutla Kepung Permukiman
SEMENTARA. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru kian mengkhawatirkan. Pada Minggu (19/7) sore kemarin, kobaran api hebat mengepung wilayah Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin.
Terdapat tiga titik api berskala besar yang berkobar hampir bersamaan dan sempat membuat panik warga.
Lurah Guntung Manggis, Rajijanoor Yahya menyebut, salah satu titik yang paling krusial berada di wilayah Transad, RT 24, di mana api yang membakar semak belukar terus menjalar mendekati rumah-rumah penduduk.
"Telah terjadi kebakaran hutan dan lahan yang juga masuk mendekati wilayah pemukiman, khususnya di wilayah Kelurahan Guntung Manggis di RT 24 di wilayah Transat," ujar Yahya.
Ia membeberkan, bahwa sebaran karhutla di wilayahnya itu memicu konsentrasi penuh dari petugas karena polanya yang memencar. Selain di RT 24 Transad yang berada di dekat Pondok Ar Rasyid, dua titik api besar lainnya juga terkonfirmasi membakar lahan di kawasan strategis.
Meski sempat memicu ketegangan karena jarak api yang sangat dekat dengan rumah hunian, ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan bangunan dalam peristiwa ini.
Keberhasilan penyekatan api ini juga tidak lepas dari peran aktif masyarakat setempat yang ikut terjun ke lapangan menggunakan peralatan seadanya sebelum armada tangki air tiba. "Seluruh warga aman-aman saja karena memang kebakarannya mendekati namun tidak sampai ke rumah-rumah warga,” tuturnya.
Di Kandangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) mencatat sebanyak 342 titik api (hotspot) terdeteksi hingga pertengahan Juli 2026.
Kepala Pelaksana BPBD HSS, Ika Aguspiannor Hidayatullah, mengatakan sebagian besar titik api berada di kawasan pertambangan, terutama di Kecamatan Padang Batung dan Kecamatan Sungai Raya.
"Dari total 342 titik api, sebanyak 44 titik berada di Kecamatan Padang Batung dan 268 titik di Kecamatan Sungai Raya. Semuanya berada di area pertambangan," ujar Ika.
Pihaknya juga mencatat, telah terjadi lima kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah HSS sepanjang tahun ini. Total luas lahan yang terbakar mencapai 5,46 hektare. "Hingga 16 Juli 2026, sudah tercatat lima kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 5,46 hektare," ungkapnya.
Sementara, meski sebagian wilayah di Kabupaten Balangan sempat dinaungi cuaca berawan dan sempat diguyur hujan lokal dalam beberapa hari terakhir. Namun, ancaman karhutla belum sepenuhnya mereda.
Kepala Pelaksana BPBD Balangan, Rahmi menegaskan bahwa cuaca panas terik yang mulai mendominasi belakangan ini harus disikapi dengan kewaspadaan tingkat tinggi. “Saat ini kondisi cuaca kelihatannya harus diwaspadai. Kita tingkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi musim kemarau karena dampaknya cuaca menjadi cukup panas. Kita berharap dengan kondisi cuaca berawan ini situasi bisa tetap stabil dan terkendali," ujarnya.
Ia tak menampik bahwa titik api sudah mulai bermunculan di wilayah Balangan. Namun, ia memastikan jumlahnya saat ini tidak terlalu masif dan masih dalam kendali penuh tim gabungan di lapangan. (zkr/she/mpi/mud/mof)
Editor : Arief