RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN - Sekda Tanah Bumbu, Yulian Herawati, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai menyusul dugaan serangan buaya terhadap seorang remaja di Desa Karang Bintang, Kecamatan Karang Bintang.
Yulian mengingatkan warga agar selalu berhati-hati, terutama saat memancing atau melakukan aktivitas di sekitar aliran sungai. Ia bahkan menyarankan masyarakat membawa alat yang dapat digunakan untuk menghalau buaya apabila sewaktu-waktu terjadi situasi berbahaya.
Menurutnya, meningkatnya interaksi antara manusia dan buaya diduga dipengaruhi oleh terganggunya habitat satwa tersebut akibat aktivitas di kawasan bantaran sungai.
"Jadi buaya juga merambah ke permukiman penduduk. Tinggal kita hati-hati," ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat segera melapor kepada aparat atau instansi terkait apabila melihat kemunculan buaya agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Peristiwa dugaan serangan buaya ini bukan yang pertama terjadi di Tanah Bumbu. Pada 2024 lalu, seorang warga lanjut usia, Samsi (64), meninggal dunia setelah diterkam buaya di Sungai Batulicin, Dusun Maju Makmur, Kecamatan Batulicin. Korban mengalami luka parah akibat serangan tersebut.
Sementara itu, AR (15), remaja asal Desa Karang Bintang, hingga kini masih dalam proses pencarian setelah diduga disambar buaya saat memancing di sungai yang tidak jauh dari rumahnya pada Ahad (12/7).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban awalnya memancing di tepi sungai. Karena belum memperoleh ikan, ia turun ke bagian sungai yang airnya lebih surut untuk menangkap ikan secara langsung.
Saat berada di dalam sungai, korban diduga disambar seekor buaya dan diseret ke bagian sungai yang lebih dalam. Sejumlah warga mengaku sempat melihat buaya membawa tubuh korban.
Operasi pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas Unit Siaga SAR Batulicin, Satpol PP dan Damkar Simpang Empat, BPBD Tanah Bumbu, Jhonlin Rescue, Polsek Karang Bintang, Koramil Karang Bintang, aparat Desa Karang Bintang, serta masyarakat setempat.
Editor : Eddy Hardiyanto