RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PELAIHARI - Musim kemarau yang mulai dirasakan di Kabupaten Tanah Laut (Tala) memicu munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Salah satu kejadian kebakaran lahan dilaporkan terjadi beberawa waktu lalu di Desa Pulau Sari, Kecamatan Tambang Ulang.
Peristiwa tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya potensi karhutla seiring suhu udara yang semakin panas dalam beberapa pekan terakhir. Kepala Pelaksana BPBD Tala, Aspi Setia Rahman, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut kebakaran terjadi pada 21 Juni 2026 di lokasi yang cukup terpencil. “Titik api berada lebih dari satu kilometer dari Jalan Ahmad Yani sehingga menyulitkan proses penanganan,” ujarnya, Rabu (1/7).
Menurutnya, lahan yang terbakar merupakan area dengan tanaman kelapa sawit yang masih berusia muda. Beruntung, api berhasil dipadamkan dengan cepat sehingga tidak sempat meluas ke area lain.
Proses pemadaman dilakukan secara bersama-sama oleh personil BPBD Tala dan tim Daops Manggala Agni Kalimantan VI/Tanah Laut hingga api berhasil dikendalikan.
Ia menegaskan, munculnya kebakaran lahan ini harus menjadi peringatan dini bagi seluruh pihak. Pasalnya, perubahan cuaca dan meningkatnya temperatur udara menjadi faktor yang memperbesar resiko terjadinya karhutla. “Ini sinyal awal bahwa potensi karhutla mulai meningkat. Semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya.
Sementara itu, mengantisipasi potensi kekeringan selama musim kemarau ratusan tandon air bersih mulai disiapkan Pemkab Banjar. Tandon air bersih ini untuk mempercepat distribusi bantuan ke daerah terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan, pihaknya telah menyiapkan armada, personel, hingga sumber air bersih guna mengantisipasi dampak kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September mendatang.
“Musim kemarau sudah mulai terasa. Beberapa masyarakat bahkan sudah mengajukan permintaan bantuan air bersih. Kami sudah melakukan dropping air bersih ke pondok pesantren di Beruntung Baru menggunakan satu unit tangki berkapasitas 4.500 liter,” ungkapnya.
Ia mengungkap, pihaknya saat ini menyiapkan sekitar 130 unit tandon air berkapasitas 1.200 liter per unit untuk mendukung pendistribusian air bersih ke daerah terdampak kekeringan. Untuk lembaga seperti pondok pesantren maupun fasilitas umum, permohonan bantuan dapat diajukan melalui surat resmi kepada BPBD. Sementara masyarakat umum dapat berkoordinasi melalui pemerintah desa setempat.
Meski demikian, Wasis mengakui kemampuan distribusi air bersih BPBD memiliki keterbatasan. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ada sejumlah wilayah yang kerap jadi langganan kekeringan saat kemarau panjang. “Biasanya warga di wilayah Kecamatan Tatah Makmur, Astambul, serta beberapa desa lain yang menjadi langganan distribusi air bersih,” ungkapnya.
Editor : Arief