RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Seporsi coto Makassar di kawasan Siring Laut Kotabaru menjadi kenangan terakhir Gilang (23) bersama istrinya sebelum berangkat melaut.
Tak ada yang menyangka, momen sederhana itu menjadi pertemuan terakhir pemuda asal Sulawesi Selatan yang tinggal di Perumnas Hilir tersebut dengan orang-orang di sekitarnya.
Gilang diketahui menjadi salah satu korban tewas dalam insiden tabrak lari kapal misterius yang menghancurkan kapal perenggek ikan Mega Harapan di Perairan Desa Labuan Mas, Kecamatan Pulau Laut Selatan.
Empat hari setelah dinyatakan hilang, jasad Gilang akhirnya ditemukan Tim SAR Gabungan pada Sabtu (20/6) pukul 17.07 WITA.
Malam itu juga, suasana duka menyelimuti RSUD Pangeran Jaya Sumitra Kotabaru. Tangis keluarga pecah saat jenazah tiba sekitar pukul 18.40 WITA.
Istri korban yang diketahui sedang hamil muda tak kuasa menahan kesedihan. Perempuan yang mengandung sekitar dua bulan lebih itu sempat histeris dan beberapa kali pingsan.
Karena kondisi jenazah yang telah empat hari berada di laut, pihak keluarga memutuskan untuk segera memakamkan Gilang pada malam yang sama setelah proses visum, dimandikan, dikafankan dan dishalatkan selesai dilakukan.
Di tengah suasana duka itu, Daeng Muntu, penjual coto Makassar di kawasan Siring Laut, mengenang pertemuan terakhirnya dengan Gilang.
Ia mengaku tidak menyangka pelanggan yang datang bersama istrinya beberapa hari sebelum insiden itu kini telah tiada.
“Dia datang bersama istrinya. Waktu itu istrinya sedang ingin makan coto,” ujar Daeng Muntu kepada Radar Banjarmasin, Senin (22/6).
Dalam obrolan singkat menggunakan logat Makassar, Gilang bercerita bahwa istrinya tengah mengandung anak mereka.
Menurut Daeng Muntu, Gilang mengaku sengaja mengajak sang istri makan coto untuk menyenangkan hatinya dan atas dasar permintaan istrinya
Mereka pun sempat berbincang soal pekerjaan. Kepada Daeng Muntu, Gilang mengaku sebelumnya lebih banyak bekerja sebagai buruh bangunan di Batulicin.
“Katanya pernah ikut melaut, tapi sebenarnya bukan keahliannya. Dia bilang ingin mencoba lagi, siapa tahu rezekinya lebih banyak,” kenang Daeng Muntu.
Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa pertemuan itu menjadi yang terakhir.
“Jujur saya tidak tahu kalau yang meninggal itu Gilang. Saya baru tahu setelah selesai dimakamkan,” tuturnya.
Duka mendalam juga dirasakan keluarga korban yang berada di Sulawesi Selatan.
Saat proses pemakaman berlangsung pada Sabtu (20/6) sekitar pukul 22.30 WITA di Desa Hilir, keluarga Gilang hanya bisa menyaksikan pemakaman melalui sambungan video call.
Sementara sang istri tidak dapat hadir ke pemakaman karena kondisi kehamilannya yang masih muda dan belum stabil dan sering pingsan
Malam itu, belasan relawan gabungan bersama pemilik kapal mengiringi ambulans yang membawa jenazah Gilang dari RSUD Pangeran Jaya Sumitra menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Kepergian Gilang meninggalkan duka mendalam, terlebih bagi sang istri yang tengah menanti kelahiran buah hati mereka.
Editor : M Oscar Fraby