RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARABAHAN – Proyek pembangunan Puskesmas Anjir Pasar menyisakan persoalan bagi seorang pemilik warung yang selama berbulan-bulan melayani kebutuhan makan dan minum para pekerja proyek. Hingga kini, Mariana (50) masih menunggu pembayaran utang para pekerja yang nilainya mencapai sekitar Rp3,3 juta.
Padahal, para pekerja telah meninggalkan lokasi proyek hampir tiga bulan lalu tanpa kabar. "Total utangnya sekitar Rp3,3 juta. Itu berlangsung selama kurang lebih dua bulan," ujar Mariana kepada Radar Banjarmasin, Kamis (18/6).
Pembangunan Puskesmas Anjir Pasar merupakan proyek milik Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala yang dikerjakan oleh CV Bintang Mandiri Nusantara asal Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Proyek tersebut memiliki nilai kontrak lebih dari Rp6,2 miliar dengan masa pelaksanaan selama 150 hari, mulai 28 Juli hingga 24 Desember 2025.
Menurut Mariana, para pekerja meninggalkan rumah kontrakan yang berada di dekat lokasi proyek menjelang peringatan 5 Rajab. Saat itu, mereka berpamitan untuk menghadiri kegiatan haul, dan berjanji akan kembali bekerja. "Mereka bilang pulang dulu menghadiri haul. Setelah itu katanya kembali lagi. Tapi sampai sekarang tidak ada satu pun yang datang, termasuk untuk melunasi utang makan selama mereka bekerja," katanya.
Mariana mengaku kecewa karena hingga sekarang tidak ada kejelasan mengenai pelunasan utang tersebut. Baik mandor maupun pengawas proyek yang sebelumnya berhubungan dengannya juga tidak pernah lagi memberikan kabar. "Saya tidak mengikhlaskan kalau seperti ini. Mana mudah mencari uang," ujarnya.
Ia mengungkapkan, awalnya bersedia memberikan utang karena ada pengawas proyek yang meminta agar para pekerja tetap dilayani untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Pada awalnya pembayaran dilakukan secara rutin setiap minggu. Namun seiring waktu, tunggakan terus bertambah hingga mencapai jutaan rupiah
"Katanya kalau tukang makan dan minum, layani saja. Bahkan ada yang sempat meminjam uang. Awalnya mereka rutin membayar setiap minggu. Lama-lama tersisa utang sebanyak itu," tuturnya.
Selain persoalan utang, Mariana juga menyoroti kualitas pembangunan puskesmas yang menurutnya perlu mendapat perhatian. Ia mengaku sempat melihat salah satu pilar teras bagian depan roboh sebelum akhirnya diperbaiki kembali. "Dari luar memang terlihat bagus. Tapi coba diperiksa lebih dekat. Pilar teras saja sempat ambruk, itu contohnya," katanya.
Kini, Mariana mengaku bingung harus meminta pertanggungjawaban kepada siapa. Sebab, utang tersebut berasal dari sekitar 30 pekerja yang identitasnya tidak seluruhnya ia ketahui. Sementara pihak yang sebelumnya menjadi penghubung antara pekerja dan warung miliknya juga tidak dapat lagi dihubungi. "Pengawasnya juga hilang. Tidak ada kabar sama sekali sampai sekarang," pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief