RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU – Duka dan kecemasan masih menyelimuti warga Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru. Hingga Senin (15/6/2026), Maliki (42), nelayan yang hilang setelah kapal yang ditumpanginya disambar petir di perairan Senakin, belum juga ditemukan.
Di balik peristiwa tragis tersebut, tersimpan kisah mencekam yang disaksikan langsung oleh sesama nelayan di lokasi kejadian.
Ketua Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru, Hamdani, mengungkapkan dirinya berada tidak jauh dari lokasi saat insiden terjadi pada Minggu (14/6/2026) pagi.
Saat itu, sekitar pukul 09.00 WITA, sebuah kapal nelayan datang dengan tergesa-gesa membawa kabar mengejutkan. Salah satu kapal nelayan dilaporkan baru saja tersambar petir.
"Mendengar kabar itu, saya langsung menarik jaring yang sedang dipasang dan segera menuju lokasi kejadian," kata Hamdani.
Sesampainya di lokasi, suasana sudah dipenuhi kepanikan. Sejumlah kapal nelayan terlihat berusaha memberikan pertolongan.
Di atas kapal yang tersambar petir, Jafar (34) ditemukan dalam kondisi syok dan mengalami luka. Sementara ayahnya, Maliki, sudah tidak terlihat dan diduga terjatuh ke laut setelah terpental akibat sambaran petir.
Sebelum dievakuasi ke daratan, Jafar sempat menceritakan detik-detik peristiwa yang hampir merenggut nyawanya.
Saat itu hujan turun sangat lebat hingga jarak pandang hanya sekitar 50 meter. Meski cuaca memburuk, mereka tetap fokus menarik jaring trammel net yang telah dipasang.
Tanpa peringatan, suara ledakan keras disertai kilatan cahaya menyambar kapal mereka.
Kekuatan sambaran petir membuat keduanya terpental. Maliki diduga terlempar keluar kapal dan jatuh ke laut, sedangkan Jafar terpental ke bagian belakang kapal sejauh beberapa meter.
"Kondisi Jafar saat itu sangat memprihatinkan. Sebagian tubuhnya mengalami mati rasa dan penglihatannya sempat gelap. Beruntung nyawanya berhasil diselamatkan," ujar Hamdani.
Melihat kondisi korban selamat yang cukup serius, para nelayan segera melakukan evakuasi menuju Desa Rampa menggunakan kapal balapan. Perjalanan dari lokasi kejadian ke daratan memakan waktu sekitar satu setengah jam sebelum Jafar dilarikan ke rumah sakit.
Menurut Hamdani, kondisi Jafar kini mulai membaik dan sudah menunjukkan kesadaran setelah menjalani perawatan medis.
Di sisi lain, upaya pencarian terhadap Maliki langsung dilakukan secara spontan oleh para nelayan setempat. Sedikitnya 20 kapal turun melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian selama berjam-jam.
Berbagai cara dilakukan, termasuk membentangkan jaring trammel net dan jaring hela dasar dengan harapan korban dapat ditemukan.
Namun pencarian belum membuahkan hasil. Gelombang tinggi yang datang secara tiba-tiba memaksa para nelayan menghentikan pencarian dan kembali ke daratan.
Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada Polairud dan Basarnas Kotabaru yang kini terus melanjutkan operasi pencarian bersama tim SAR gabungan.
Memasuki hari kedua pencarian, harapan keluarga dan rekan-rekan sesama nelayan masih belum padam.
"Kami memohon doa dari seluruh masyarakat agar saudara kami, Maliki, segera ditemukan. Sudah dua hari beliau hilang di laut, semoga ada keajaiban dan kabar baik untuk keluarga," tutup Hamdani.
Editor : Eddy Hardiyanto