RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – SDN Teluk Tiram 1 Banjarmasin menjadi sasaran pencurian hingga dua kali dalam kurun waktu sekitar dua pekan pada Mei 2026. Akibat aksi tersebut, sekolah mengalami kerugian total mencapai Rp6,9 juta.
Ironisnya, pencurian berulang itu terjadi di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan laporan yang dibuat Kepala SDN Teluk Tiram 1, Siti Maimunah, ke Polresta Banjarmasin, aksi pencurian pertama diketahui pada Minggu (4/5/2026) sekitar pukul 06.30 Wita.
Saat itu, pihak sekolah menerima informasi dari guru mengenai hilangnya sejumlah fasilitas sekolah di lingkungan SDN Teluk Tiram 1 yang berlokasi di Jalan Ampera, Kelurahan Teluk Tiram, Kecamatan Banjarmasin Barat.
Barang yang raib antara lain enam unit kipas angin dari ruang kelas 1B, 2B, dan 3A, serta sebuah mesin air dan pengeras suara (speaker TOA) yang berada di bagian depan sekolah.
Akibat kejadian tersebut, sekolah mengalami kerugian sekitar Rp4,5 juta dan langsung melaporkannya ke pihak kepolisian.
Namun belum genap satu bulan, sekolah kembali menjadi target pencurian.
Berdasarkan laporan kedua yang diterima polisi pada Senin (18/5/2026), pelaku kembali beraksi pada pagi hari sekitar pukul 06.30 Wita.
Kali ini, pelaku diduga masuk ke area sekolah dengan cara mencongkel atau membongkar jendela belakang ruang kelas 3B.
Dari hasil pengecekan yang dilakukan guru olahraga sekaligus pemegang kunci ruangan, Fadh Noor Fadilah, diketahui empat unit kipas angin merek Maspion kembali hilang digondol pelaku.
Pencurian kedua tersebut menyebabkan kerugian tambahan sekitar Rp2,4 juta.
“Kipas angin itu ada yang masih bagus, bahkan harga belinya ada yang satu unit Rp850 ribu,” ujar Maimunah, Jumat (12/6/2026).
Maimunah mengungkapkan, pihak sekolah sebenarnya telah berupaya meningkatkan keamanan dengan memasang kamera pengawas (CCTV) setelah kejadian pertama.
Namun, upaya itu diduga sudah diketahui pelaku.
Menurutnya, sebelum pencurian kedua terjadi, rekaman CCTV menunjukkan adanya suara mencurigakan dari luar area kamera.
“Sebelum dia mencuri, rekaman terakhir CCTV itu ada bunyi tak wajar. Seperti dihancurkan dari luar sebelum pelaku masuk. Setelah ditemukan, CCTV pun sudah dalam keadaan rusak,” jelasnya.
Selain merusak CCTV, pelaku juga diduga menghancurkan sebagian pagar sekolah untuk mempermudah akses masuk ke lokasi.
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, memastikan pihaknya akan mengawal proses pelaporan yang sedang ditangani kepolisian.
Ia juga menyebut persoalan aset yang hilang telah ditindaklanjuti oleh Bidang Aset Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin.
Ryan menekankan pentingnya peningkatan sistem keamanan sekolah, termasuk selektivitas dalam perekrutan petugas keamanan dan membangun koordinasi yang baik dengan lingkungan sekitar.
“Nanti kita konfirmasi lagi untuk tindak lanjutnya. Untuk seperti apa perekrutan petugas keamanan juga telah saya sampaikan,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR meminta seluruh jajaran terkait meningkatkan pengamanan aset sekolah agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Menurutnya, pencurian fasilitas pendidikan bukan hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga berpotensi mengganggu kenyamanan dan kelancaran proses belajar mengajar.
“Ini menjadi atensi dan perhatian khusus. Jangan sampai terus terjadi berulang. Aset yang seharusnya digunakan untuk menunjang kegiatan sekolah akhirnya hilang karena pencurian,” tegas Yamin.
Ia juga mendorong penguatan sistem pengawasan melalui pemasangan CCTV yang lebih memadai serta berbagai langkah pencegahan lainnya.
“Nah ini harus ditingkatkan pengamanannya, entah seperti apa. Jika ada CCTV identitas pelaku bisa lebih mudah diketahui,” katanya.
Yamin meminta setiap kasus pencurian di lingkungan sekolah segera dilaporkan kepada aparat penegak hukum agar dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tuntas.
Hingga kini, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku pencurian yang telah dua kali menyasar SDN Teluk Tiram 1 Banjarmasin.
Editor : Eddy Hardiyanto