RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Batulicin – Sebagian besar kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Tanah Bumbu ternyata dilakukan oleh orang-orang yang berada di lingkungan terdekat korban. Kondisi ini menjadi perhatian karena rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru kerap menjadi lokasi terjadinya kekerasan.
Sekretaris DP3AP2KB Tanah Bumbu, Kartini, mengatakan mayoritas pelaku kekerasan yang ditangani berasal dari lingkungan keluarga maupun orang yang memiliki kedekatan dengan korban.
"Seharusnya perempuan dan anak merasa aman di rumah, namun justru mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya," ujarnya.
Ia menjelaskan, kasus yang ditangani cukup beragam, baik yang menimpa anak maupun perempuan. Bahkan, dalam sejumlah kasus, pelaku memiliki hubungan dekat dengan korban.
Menurut Kartini, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya perlindungan perempuan dan anak. Karena itu, pemerintah daerah terus memperkuat langkah pencegahan sekaligus penanganan terhadap korban.
Upaya yang dilakukan antara lain melalui layanan pengaduan, pendampingan korban, mediasi, hingga penyediaan rumah aman sebagai tempat perlindungan sementara bagi korban yang membutuhkan.
Selain itu, DP3AP2KB juga menggencarkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Kegiatan tersebut menyasar sekolah, kelompok perempuan, serta forum keagamaan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Berdasarkan data DP3AP2KB, hingga Mei 2026 tercatat 25 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tanah Bumbu. Jumlah tersebut sudah menyamai total kasus sepanjang 2024 yang juga mencapai 25 kasus. Sementara pada 2025 tercatat sebanyak 35 kasus.
Kartini berharap keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat menjadi benteng utama dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Tanah Bumbu.
Editor : Arif Subekti