RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Cuaca panas mulai terasa di sejumlah wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator mulai memasuki musim kemarau yang identik dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data dari Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Hulu Sungai, Kabupaten HSS memiliki kawasan hutan seluas 52.086,84 hektare. Luasan tersebut didominasi oleh Hutan Produksi (HP) seluas 25.913,08 hektare dan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (HPK) seluas 25.337,31 hektare. Selain itu, terdapat Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 836,41 hektare serta Hutan Lindung (HL) seluas 0,0288 hektare.
Sementara itu, berdasarkan laporan titik panas (hotspot) dari BMKG Kalimantan Selatan yang dibagikan Tim Pusdalops BPBD HSS per 31 Mei 2026, terdeteksi delapan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Kecamatan Sungai Raya.
Kepala KPH Hulu Sungai, Rahmad Riansyah, membenarkan bahwa wilayah Sungai Raya memang menjadi kawasan yang paling sering terdeteksi hotspot. Namun, menurutnya, sebagian besar titik panas tersebut berada di area pertambangan batu bara.
"Tempat hotspot di HSS yang paling banyak berada di Kecamatan Sungai Raya yang merupakan kawasan pertambangan. Di sana biasanya terjadi kebakaran dalam tanah akibat batu bara yang terbakar, sehingga menimbulkan asap di permukaan," ujarnya.
Rahmad menjelaskan, kebakaran batu bara yang terjadi di dalam tanah memiliki karakteristik berbeda dengan kebakaran lahan pada umumnya. Kondisi tersebut cukup sulit untuk dipadamkan karena sumber api berada di bawah permukaan tanah.
"Untuk memadamkannya harus diputus dengan cara mengambil batu baranya. Batu bara di sini memiliki kalori rendah sehingga sangat rawan terbakar. Bahkan semakin disiram, apinya bisa semakin besar," ungkapnya.
Karena sulit ditangani, kebakaran bawah tanah tersebut dalam beberapa kondisi kerap dibiarkan hingga sumber bahan bakarnya habis atau dilakukan penanganan khusus oleh pihak terkait.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 lalu, jumlah hotspot di Kecamatan Sungai Raya sempat meningkat cukup signifikan.
"Tahun kemarin banyak sekali ditemukan hotspot di wilayah Sungai Raya. Hampir memenuhi kawasan tersebut, dan setelah dilakukan pengecekan ternyata sebagian besar berada di wilayah pertambangan," pungkasnya.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Pemantauan titik panas juga akan terus dilakukan oleh instansi terkait guna mencegah meluasnya kebakaran dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat.
Editor : Arif Subekti