RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura - Kasus pembacokan yang terjadi di Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, dan viral di berbagai grup WhatsApp serta media sosial mulai mendapat sorotan dari berbagai pihak.
Peristiwa yang melibatkan seorang pria yang diduga mengalami halusinasi hingga membacok tiga orang tersebut, dinilai menjadi pengingat bahwa pentingnya kesehatan mental dan tekanan batin di tengah masyarakat.
Anggota DPRD Kabupaten Banjar, M Ali Syahbana, menilai kasus kekerasan yang dipicu gangguan emosi maupun tekanan hidup tidak boleh dianggap sepele.
Menurutnya, seseorang yang memendam tekanan hidup terlalu lama berpotensi kehilangan kontrol logika saat kondisi mentalnya berada di titik jenuh.
“Ketika seseorang mengalami akumulasi tekanan hidup yang dipendam terlalu lama, sistem penyaring antara pikiran sadar dan bawah sadar bisa melemah,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Ali menjelaskan, manusia pada dasarnya memiliki dua sistem kendali utama, yakni pikiran sadar yang mengatur logika dan moral, serta pikiran bawah sadar yang berkaitan dengan emosi dan insting.
Dalam kondisi tertentu, kata dia, pikiran bawah sadar dapat mengambil alih kendali tubuh secara otomatis hingga memunculkan tindakan yang tidak terkendali.
Ia juga menyinggung fenomena munculnya suara-suara internal atau bisikan yang kerap diakui pelaku kekerasan sebelum melakukan tindakan ekstrem.
“Fenomena bisikan itu bisa dipahami sebagai dialog internal bawah sadar yang membesar secara tidak terkendali,” jelasnya.
Menurut Ali, pikiran bawah sadar bekerja secara mekanistik tanpa mempertimbangkan norma sosial maupun hubungan kekeluargaan.
“Saat kontrol logika seseorang lumpuh, tubuh bisa bergerak seperti auto-pilot menjalankan dorongan destruktif,” katanya.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti bendungan yang terus menahan tekanan tanpa saluran pembuangan hingga akhirnya jebol sewaktu-waktu.
Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Banjar mulai memikirkan program khusus berupa layanan manajemen pikiran sehat bagi masyarakat.
Program tersebut, menurutnya, dapat menjadi ruang aman bagi warga untuk berkonsultasi mengenai tekanan hidup, stres, maupun persoalan emosional yang dialami sehari-hari.
“Ini penting sebagai layanan gratis dan aman bagi warga untuk berkonsultasi mengenai tekanan hidup mereka,” tegasnya.
Melalui layanan itu, masyarakat diharapkan mendapat edukasi mengenai cara mengelola stres dan menjaga keseimbangan mental sebelum mencapai titik yang membahayakan.
“Kadang seseorang hanya butuh didengarkan saat bercerita. Dari hal sederhana itu, tekanan batin bisa jauh berkurang,” pungkasnya.
Editor : M Oscar Fraby